Rabu, 30 Desember 2009

Gus Dur Telah Berpulang

QS 18:44. di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang hak. Dia adalah Sebaik-baik pemberi pahala dan Sebaik-baik pemberi balasan.

QS 18:45. dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, Maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.

QS 18:46. harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.


Innalillahi wa inna illaihi rojiun.

Tanggal 30 Desember 2009 ini Indonesia berduka. Kali ini bukan karena bencana alam, tapi kehilangan sosok Guru Bangsa yang pernah menjadi Presiden NKRI ke-4 yaitu K.H Abdurrahmaan Wahid atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur. Tidak banyak orang yang tahu, nama asli pemberian orang tuanya adalah Abdurrahman Ad-Dakhil yang artinya Abdurrahman Sang Pendobrak. Namun, kita mengenalnya sebagai Gus Dur. Gus sendiri menyatakan asal usulnya kalau Abdurrahman Wahid berasal dari keluarga kiai. Kakeknya, Kiai Haji Hasyim Asy’ari adalah pencetus Jihad di Surabaya pada tahun 1945. Ayahnya adalah K.H Wahid Hasyim yang pernah menjabat sebagai Mentri Agama di awal Kemerdekaan R.I. Gus Dur wafat di RSCM Jakarta tanggal 30 Desember pukul 18:45 BBWI setelah beberapa hari sebelumnya ziarah ke makam leluhurnya dan mengunjungi beberapa kerabatnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Seolah-olah ia telah menangkap sasmita tentang waktu kematiannya dan berpamitan dengan penghuni dunia yang dikenalnya.

Sebagian besar orang melihat Gus Dur sebagai sosok yang luar biasa. Bukan saja sekedar kontroversial karena pendapat-pendapatnya yang seringkali tidak dapat dipahami maksudnya, tapi dengan deraan penyakit yang dideritanya seperti diabetes, jantung, dan komplikasi lainnya ia masih sanggup melakukan banyak hal, berupaya untuk memberikan bukan sekedar pengajaran, tapi pengertian yang luhur tentang parktek, arti, dan makna kehidupan itu sendiri.
Tentu saja ia berbicara dan berbuat tidak sekedar sebagai salah satu pemimpin Umat Islam dari Indonesia yang disegani, bukan sekedar sebagai Presiden atau mantan Presiden NKRI, tapi juga sebagai manusia umumnya. Ia mampu berbicara di hadapan pemimpin dunia, pemimpin agama, masyarakat bisnis, kalangan profesional, mahasiswa, santri, masyarakat kebanyakan, bahkan masyarakat pinggiran dengan bahasa lokal. Terutama bahasa Jawa. Oleh pengikutnya, yang umumnya dari kalangan nahdliyin, ia adalah sosok Wali Allah bukan karena ia anak Kiai, bukan karena ia ketua NU, bukan karena ia jadi Presiden, tapi dari aktualita dari hidup yang dijalaninya. Jauh sebelum berbagai jabatan, pengharagaan, dll disematkanpadanya, sudah banyak orang yang telah mengangkatnya sebagai Wali Allah. Sebagai sosok yang diberi kedekatan bersama Allah dan tentunya dengan kesadarannya, ia menerima semua itu bukan sebagai suatu beban, tapi suatu kewajiban kudus dirinya sebagai makhluk Allah, dengan misi yang ditetapkan kepadanya seajk azali.

Kini, sosok Guru Bangsa itu telah mangkat dan pergi kembali kepada Sang Khaliq. Dari segi apapun, dalam jangka waktu lima sampai puluhan tahun mendatang mungkin tak ada lagi yang dapat menggantikannya. Malah mungkin, ia adalah sosok Guru Bangsa Indonesia terakhir yang mampu menembus semua kalangan dan diterima oleh semua orang di berbagai belahan dunia. Mengingat Gus Dur dan saat ia kembali kepada-Nya, saya kemudian membuka Al Quran dan membaca QS 18:44-46 yang berbicara tentang Pertolongan Allah, pahala, kiasan tentang kehidupan, dan amal saleh terbaik bagi seorang manusia yaitu sebaik-baiknya amal yang kekal baik disisi Allah maupun disisi makhluk lainnya. Terutama makhluk lain itu adalah manusia. Tentunya dalam QS 18:46 itu Allah berbicara mengenai suatu cita-cita luhur setiap manusia yang hendaknya memberikan daya dan spirit supaya manusia lain pun dapat tergerakkan untuk melakukan apa yang disebut amal baik yang kekal itu. Bagi Gus Dur, amal yang kekal itu muncul dari ide tentang Pluralisme, Demokrasi, kemanusiaan, ham, dan seabrek gagsan-gagasan lainnya yang direalisasikan dengan berbagai risiko yang ditanggungnya. Gagasan-gagasannya mampu memberikan motivasi bagi manusia lainnya untuk meneruskan semangat dan cita-cita itu. Itulah mungkin yang akan abadi dikenang oleh manusia yang melihat sosok almarhum Gus Dur dengan lebih seksama, terutama melalui buah pikirannya yang tertulis, perbuatannya yang diwariskan melalui lembaga-lembaga yang berdiri atas namanya, serta orang-orang yang mencintainya dengan tulus, setia dengan cita-cita dan pandangan-pandangannya.

Kini, ia telah pergi. Sosok Guru Bangsa Indonesia yang unik dan tak ada duanya itu telah kembali ke Sang Khaliq dihantar oleh jutaan jiwa-jiwa bangsa Indonesia yang menatap dengan sedih dan mungkin bertanya-tanya, bagaimanakah Indonesia tanpa Gus Dur sebagai lem perekat semua kalangan? Adakah figur pengganti Gus Dur yang mampu memberikan cipta, karya, dan karsa tanpa pandang bulu? Ia unik, memang unik, dan Bangsa Indonesia boleh berharap dan meratap kepada Allah SWT agar ada sosok yang mampu menggantikan Gus Dur sebagai salah satu pasak Bumi Indonesia ini.

Babelan, Bekasi 30/12/2009

Tidak ada komentar :

Posting Komentar