Kamis, 14 November 2013

Mengapa harus ragu menjadi istri ustad

Duduk istirahat sambil FBan terbaca tulisan
"Kasian ya, dia mendapatkan calon suami seorang ustad, padahal dia tergolong orang yang pinter"
Setelah membaca tulisan ini, hati menjadi kalang kabut, gerah, marah, sedih pokoknya komplit dan cukup sampai-sampai kaki dak bisa diam. (hehehe... dakpapa sedikit didramatisir biar tambah seru).

Oke, kembali ke laptop....
Kita tidak perlu membahas siapa yang berpendapat itu lagian untuk apa juga, sekarang zamannya kebebasan berpendapat dan memilih langkah menurut hati nuraninya (Opsss.... ini dak ada hubungannya dengan pemilu 2014). Mungkin berdasarkan pengamatannya selama ini, menjadi istri seorang ustad itu dak perlu pinter, karena kerjanya hanya ibu rumah tangga saja.

Oke, kembali lagi lah kita ke laptop...
Sebagai orang muslim tentu saja kita memiliki landasan idil yakni Quran dan Sunnah. Dalam Islam, wanita begitu dihormati dan dimuliakan, bahkan untuk masuk surgaNya pun syarat bagi istri jauh lebih mudah cukup hanya dengan shalat lima waktu, puasa ramadhan, jaga kehormatan dan taat suami, maka dia bebas memilih mau masuk surga lewat pintu mana saja.


"Apabila seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadhan, menjaga kehormatan dirinya, dan taat kepada suaminya,Maka ia akan masuk syurga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.."[HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahihut Targhib: 1931]


Hehehe....sebenarnya bahasan diatas baru mukadimahnya tapi berhubung dan berhubung perut sudah lapar, kita break dulu ya.... dengan berat hati saya terpaksa harus menulis "Bersambung...." 

Alhamdulillah setelah dilakukan pendekatan secara persuasif, akhirnya demonstrasi para cacing dalam perut berlangsung dengan damai tanpa anarkis dan dapat diajak berkonspirasi.

Ok, ada baiknya kita kembali lagi ke Taufik (topik maksudnya...  )
Setelah menempuh berbagai bangku sekolah/akademisi, seorang wanita tentu memiliki cita-cita untuk berumahtangga. Tak peduli ia sepintar apa atau sebodoh apa (relatif), pastilah cita-citanya sama karena sudah fitrah manusia.

Jadi ingat dengan perkataan seorang teman "untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya kita hanya jadi ibu rumah tangga".
Kalau dipikir sepintas memang ada benarnya juga, untuk apa S1, S2, S3, S4... S (teler), S(campur) eh.... satu lagi S(dawet) hhmmm tambah satu lagi dakpapa ya, kasian dengan mang Abut yang jualan S(parut), kalau akhirnya hanya mengurusi dapur, kasur dan sumur. Anak yang tidak sekolahpun juga bisa.

Lucu juganya kalau ada kasus seperti ini, penerapan hukum-hukum newton dalam memasak nasi atau analogi hukum kekekalan energi dalam mencuci baju (ah... ada-ada wae). Oh iya satu lagi, mencari korelasi teori big bang dengan menyapu lantai. gkgkgkgk... just kidding.

Sadarilah, tujuan dari dunia pendidikan itu adalah bukan untuk membuat pintar tapi lebih dari itu mencerdaskan anak bangsa, merubah mindset /pola pikir anak didik yang akhirnya diharapkan dapat merubah tatanan hidupnya. Sehingga ia bisa mengerti apa sebenarnya tujuan dalam hidup ini yang tiada lain beribadah padaNya.

Ok, agar tidak jauh menyimpang, ada baiknya kita tulis lagi kata pembuka sebelumnya:
"Kasian ya, dia mendapatkan calon suami seorang ustad, padahal dia tergolong orang yang pinter"

Kalau ditafsirkan, ungkapan diatas mengandung multi tafsir. Bisa saja begini:
1. Gadis pinter dilarang kawin dengan ustad
2. Jadi Istri seorang ustad itu pasti karirnya bakalan akan mandek/hancur
3. Jadi Istri seorang ustad itu pasti didalam rumah saja, tidak boleh keluar
4. Jadi Istri seorang ustad itu pasti akan hidupnya tidak gaul
5. Jadi Istri seorang ustad itu pasti hidupnya tidak bahagia dan miskin
6. Jadi istri seorang ustad itu pasti bakal repot karena anaknya banyak
7. dll... (capek mikirkannya).

Dengan berat hati, lagi-lagi saya harus menuliskan kata-kata seperti:
Mari jumpa lagi dengan Ferry.... setelah intermezzo berikut ini 
>>> bersambung <<<

Ok, intermezzonya sudah lama lewat jadi kita kembali lagi ke bahasan.
Secara tidak sengaja, multi tafsiran sebelumnya bisa kita jadikan rumusan masalah , mungkin inilah yang dimaksud dengan jangan pikirkan apa yang akan engkau tulis tapi tuliskan saja.

1. Gadis pintar dilarang menikah dengan ustad.
Well, kata pintar memang bersifat relatif, untuk mempermudah membahasnya kita kompak-kompak saja mendefinisikan sebagai orang yang berprilaku baik, elegan, anggun, bertitel, cantik, supel, merdu suaranya, hobi membaca, etc...etc.

lalu bagaimana dengan "ustad", dalam dunia pendidikan dan apa ya istilah dalam bahasa Indonesia. Ustad adalah hasil adopsi bahasa arab yang berarti "guru/pendidik", namun dominasi masyarakat mengerucutkan pada guru/pendidik pada lembaga berbasiskan agama (Islam).

Dilihat dari kacamata norma hukum yang berlaku di Indonesia, norma agama dan norma-norma yang lain. Tidak ada sederetan aksara yang intinya melarang kedua kriteria tersebut untuk bertemu menyatukan visi, misi dalam ikatan pernikahan.

“Perempuan yang jahat untuk lelaki yang jahat dan lelaki yang jahat untuk perempuan yang jahat, perempuan yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk perempuan yang baik.” (an-Nur':26)

Inilah janji Allah swt, seandainya kita menginginkan istri/suami yang baik tentu saja kita harus terlebih dahulu menjadi sosok pemuda/pemudi yang baik. Sebelum mengulas lebih dalam, kita harus menyakini dan mempercayai kebenaran perkataan Allah ini, kalau tidak bakal berabe (kata bang Rhoma). Soalnya begini, kalimat Allah saja kita tidak percaya dan ragu lalu pada siapa lagi kita berkiblat.

So... janganlah kita merasa merugi ketika menjadi istri/suami. Karena nyakinlah dia adalah pasangan yang terbaik menurut tuhan. Walau memang tidak dipungkiri, masih ada segolongan manusia yang kurang memahami skenario sang pencipta. Hal ini sangat dimaklumi karena ruang lingkup pikiran manusia sangatlah terbatas.

2. menjadi istri seorang ustad, harus siap-siap hidupnya dirumah saja, tidak gaul, dan karirnya akan mati.

Ok, ada baiknya lagi kalau kita kembali membuka sejarah keluarganya nabi dan sahabat.
tidak dipungkiri, jauh sebelum menikah dengan nabi, Siti Khadijah ra adalah seorang pembisnis ulung bahkan sampai ke negeri Syam (klo dak salah Irak sekarang), hhmmm... berarti istilah zaman sekarang ekspor-impor. Ketika menikah dengan Rasul, tidak semata-mata karirnya langsung berhenti, aktifitasnya berhenti dan relasinya terputus. Malah, hasil perdagangannya banyak menunjang perjuangan nabi dalam berdakwah.
Mungkin sangat lucu dan tidak relevan kalau seorang pembisnis besar adalah seorang wanita rumahan yang sama sekali tidak tahu informasi dunia luar. Apalagi zaman itu tidak ada akses komunikasi nirkabel dan internet seperti sekarang.

Lalu bagaimana dengan istri-istri para sahabat. hampir tidak ada riwayat yang menyebutkan kalau istri-istri sahabat hanya berdiam diri saja dirumah. Kebanyak mereka beraktifitas diluar rumah dalam bentuk berdakwah, berdagang, silaturahim, rekreasi bahkan yang lebih ekstrimnya lagi juga ikut berperang.

So... pernikahan itu bukanlah sebuah batu besar yang akan menghalangi, mengkerdilkan bahkan membunuh kreatifitas dalam berkarya, berkarir dan bersilaturahim. Dengan siapapun ia menikah, seorang pedagangkah, gurukah, swasta, pejabat dan lain sebagainya.

Hehehe... mumpung malam belum larut dan warung masih buka, anak mudo nak permisi sebentar....  nanti dilanjutkan lagi... okey....

Alhamdulillah, yang dibeli sudah ditangan. Sudah jadi kebiasaan, baru bisa tidur kalau sudah larut. Apalagi teman sekamar sudah pulas, TV dak ada acara menarik, itung-itung belajar ngetik jadi kita lanjutkan lagi... haha...

3. Jadi istri seorang ustad harus siap-siap mengurus anak yang banyak, hidup miskin dan tidak bahagia.
Hhhmmm... point kali ini cukup berat untuk dikupas, bisa-bisa berguguran satu persatu rambut di kepala, gkgkgkgk.... Tapi dak apalah, itung-itung habiskan malam dan lagi-lagi belajar menulis. Bismillah...

Para ulama melakukan ij'ma dan memutuskan membolehkan KB, hal ini dikarenakan KB bukanlah suatu pembatasan kelahiran (tahdid al nasl) melainkan mengatur kelahiran (tanzim al nasl). Islam memandang KB boleh saja dilakukan asalkan melalui prosedur yang benar dan tentu saja dengan alasan yang syar'i.

Jadi saya mencoba menyimpulkan kalau seandainya ada seorang calon suami yang mengharamkan berKB dan dengan alasan yang tidak syar'i berarti ia sudah melanggar ulil amri/fatwa MUI.

“Wahai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan ulil Amri di antara kalian..” (QS. An Nisa (4): 59)

“Berkata Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas: “Dan Ulil Amri di antara kalian” artinya ahli fiqih dan agama. Begitu pula menurut Mujahid, Atha’, Hasan Al Bashri, dan Abu al ‘Aliyah: “Dan Ulil Amri di antara kalian” artinya ulama.”

Mudah-mudahan jabaran tentang KB bisa sedikit dipahami, maklumlah.... saya masih orang baru dalam dunia fiqih kontemporer. 

Hidup bahagia bersama belahan hati adalah dambaan setiap insan. Begitu banyak faktor pendukung dalam mencapai "kebahagiaan", salah satunya mungkin "cinta". Pernah dengar lirik bang Rhoma : yuk....kita nyanyi bersama-sama.....  

"Cinta karena dasi si-si akan segera basi
Cinta karena gincu cu-cu akan segera layu"

wkwkwk ketahuan deh maniak dangdut , tapi dak apalah, sembari menghangatkan suasana..... lanjut mang....

Jabatan perlu, tampan pun perlu
Bahkan emas permata
Tetapi cinta di atas segalanya

Berhias perlu, cantik pun perlu
Untuk gairah cinta
Akhlak mulia hiasan yang utama

Tak guna harta benda da-da
Kalau jadi neraka
Tak guna wajah indah da-da
Kalau jadi bencana

hahaha....cukup-cukup.... sekarang semuanya kembali ketempat duduknya masing-masing, hahaha....

Selain "cinta" ada satu lagi yang lebih utama....."Percaya".
Begitu banyak rumah tangga yang berjalan tidak bahagia dan berujung pada perceraian bukan karena tidak cinta lagi tapi lebih pada tidak percaya lagi.

Ok, sudah dulu membahas yang cinta-cintaan.
Lalu adakah korelasinya, berharta maka akan bahagia dan miskin akan sengsara. Jika kita bersikeras tidak ada hubungannya mungkin salah karena salah satu tujuan pernikahan adalah untuk mengumpulkan harta tapi yang lebih didahulukan adalah ridhoNya.

“Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagi mu dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah lemah. Bila menimpa mu sesuatu (dari perkara yang tidak disukai) janganlah engkau berkata: “Seandainya aku melakukan ini nescaya akan begini dan begitu,” akan tetapi katakanlah: “Allah telah menetapkan dan apa yang Dia inginkan Dia akan lakukan,” karena sesungguhnya kalimat ‘seandainya’ itu membuka amalan syaitan.” (HR. Muslim)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini