Minggu, 12 Januari 2014

Cetak biru ayah yang tak terbaca

Ana : (dengan nada merayu) Ayah... boleh tidak saya mengenal lebih dalam seseorang :)
Ayah : Tidak boleh..!!!
Ana : Tapi yah, Ana sudah besar... Ana sudah dewasa... :(
Ayah : (dengan sedikit cuek) Tidak boleh...!!!
Ana : Mengapa Ayah tidak percaya dengan Ana yah, Ana sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk... Percayalah Yah... :(
Ayah : (dengan anda tinggi dan marah) Ayah tidak setuju...tidak boleh... pokoknya tidak boleh.... titik...!!!
Ana : (sambil menangis dan memeluk ibunya dikamar) Ibu.... mengapa semuanya tidak boleh... ini dilarang... itu tidak boleh... rasanya tidak adil bu... mengapa begitu banyak peraturan dirumah ini.... Ana sudah besar bu...???
 Ibu : (sambil memeluk anaknya) Anak ibu yang cantik... :) Ayah tidak begitu... ayah sayang dengan Ana...nanti ibu coba ngomong dengan ayah yah... :)
Ana : (menangisnya makin menjadi) Mengapa ayah jahat dengan Ana bu... dari dulu semuanya tidak boleh... dari dulu semuanya dilarang... Ana sudah besar bu...
Ibu : ayah... tak terasanya... usia perkawinan kita sudah hampir 25 tahun.
Ayah : iya bu... waktu terasa begitu singkat.
 Ibu : eh yah...tak terasa ya... anak kita sudah dewasa dan menjadi gadis yang cantik :)
Ayah : Ayah tidak bermaksud memarahi dan menyakitinya bu... Ayah hanya menginginkan yang terbaik untuknya... Ayah tidak mau dia kan terluka walau sedikitpun... Ayah ingin kelak ia kan mendapatkan pendamping yang terbaik... Ayah tidak rela kalau ia salah memilih... Ayah takut hidupnya menderita... Ayah ingin.... .... .... ....
 Ibu : Anak kita sudah menjadi gadis cantik dan pintar yah :) ... berikanlah ia sedikit kepercayaan dari ayah... :) Berbagai bimbingan dan nasihat sudah kita berikan... kita doakan saja semoga ia mendapatkan pilihan terbaik dalam hidupnya.

_____________________
Cerita diatas hanya rekayasa saja namun mudah2n bisa menggambarkan realita yang terjadi disekitar kita dan memberikan manfaat bagi pembaca.
 >> Seorang ayah memiliki begitu banyak desain yang telah dirancang bagi anaknya. Walau terkadang sebagiannya tidak bisa digambarkan dengan nada-nada indah dan belaian mesra. Akhirnya hanya bisa terlukiskan dengan berbagai larangan dan amarah.
>> Nyakinlah... dibalik diamnya, dibalik larangan dan marahnya terselip kasih sayang, harapan dan doa yang tulus.
>> Ya Allah, ampunilah segala dosaku, dan (dosa) kedua ibubapaku, dan rahmatilah keduanya sepertimana mereka mendidikku pada waktu kecil. Aamiin.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar