Senin, 05 Mei 2014

NOTHING WRONG OF BEING VILLAGER

Beberapa awktu yang lalu seorang sepupuh menelponku. Ia menanyakan kabar dan kegiatan ku sekarang. Kami bertukar informasi tentang keluarga dan anak-anak. Dari ceritanya baru ku ketahui kalau dia tinggal terpisah dengan suaminya yang yang harus pindah tugas ke daerah.

Dia hanya tinggal bertiga dengan anak-anaknya sementara suaminya hanya seminggu sekali berkunjung. Mengingat profesinya yang seorang PNS, saya tanya mengapa tidak ikut mutasi ke tempat suaminya. Dia menolak dengan tegas dengan alasan utamanya karena gaji di daera jauh lebih rendah dari ibu kota provinsi. "biaya sekolah si sulung saja sudah sekian di tambah harus menghentikan kegiatan-kegiatannya yang seabrek, ikut les ini, kursus itu dan sekolahnya yang termasuk sekolah elit, rasanya tidak mungkin untuk meninggalkan itu semua" pungkasnya.

Memang ada benarnya apalagi kalau sudah terbiasa dengan gaya hidup di kota. Tentulah keberatan kalau harus pindah ke kota kecil atau bahkan desa.

Memecah lamunanku, dia bertanya seringkah aku ke kota, karena mengingat daerah tempat ku tinggal tidak terlalu jauh dari kota tempat dia tinggal. Aku hanya menjawab singkat "tidak ada waktu". Selain itu anak-anak yang masih kecil rasanya kurang baik diajak perjalanan dengan sepeda motor. Tampaknya dia terkejut, tapi lebih lagi mendengar komentarnya "jadi anakmu belum pernah lihat mall, makan di mc. Donald, merasakan pizza, mandi di water boom". Sekarang aku yang terdiam. Sedemikian pentingkah tempat-tempat itu hingga orang akan terkejut kalau kita tidak tahu tempat-tempat itu.

Terus terang saya bersyukur tinggal di daerah, saya tidak harus binggung memikirkan bagaimana cara bergaul ala kota, tidak harus pusing melihat banyak "Sale" di mall-mall, Tidak harus stres dengan macet dan kriminalitas kota.

Tinggal di kota praktis selalu sibuk, lihatlah mall-mall selalu di banjiri orang, tidak kenal siang dan malam. Dan seringkali masih banyak orang berkeliaran di jalan saat waktu maghrib (jam wajib berada di rumah bagi keluargaku).

Memang benar, anak-anakku hanya tahu warung depan rumah atau pasar "kalangan", paling keren masuk alfamart atau indomaret. Makan ayam goreng tepung Umminya dan mie goreng + telur yang digoreng dadar yang kami sebut pizza atau juga hanya kenal rawa-rawa tempat bermain, tapi menurut saya tidak ada yang salah...

Terus terang saya tidak malu akan itu.
Saya akan takut dan malu saat anak-anak ku belum mengenal huruf hijaiyah, tidak hafal doa-doa atau tidak tahu sang pencipta dan sosok Rasurullah.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar