Minggu, 15 Februari 2015

Karena Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga


Tersentak ketika mendengar ucapan salah satu wali siswa saat dipanggil karena anaknya melakukan pelanggaran lumayan fatal “Nak, kau tahu tidak baju yang bapak pakai ini...!. Bapak tahan tidak beli baju sejak kau masuk sekolah, ini semua untuk anak bapak, untuk mu sekolah...., agar kau terus berprestasi dan harumkan nama bapak yang hanya orang dusun (red_desa) ini”, ucapnya sambil mengusap air mata.

Dengan serak ia berkata “Sungguh kau sangat memalukan dan membuat keluarga kita terpojok”.

“Mulai detik ini, kau bereskan pakaianmu di asrama, kita pulang dan terserah kau mau jadi apa nanti, bapak tidak peduli, bapak sudah melakukan yang terbaik nak...., banting tulang bahkan sampai menumpuk hutang disana-sini”, tambahnya lagi.

Saya pun memahami mengapa sang ayah begitu terpukul karena kurang dari satu tahun sebelumnya, ia dan anaknya sama-sama naik panggung disaksikan ribuan pasang mata saat menerima piagam sebagai siswa terbaik dan teladan.

Setelah siswa tadi saya suruh keluar sesaat, sang ayah tambah menangis menjadi-jadi sembari menceritakan bahwa saat ini istrinya sedang sakit berat dan sudah lama ia tidak bisa mencari nafkah seperti dulu lagi. Tetapi ia terus berusaha untuk menyakini bahwa itu semua adalah cobaan dan pasti ada terselip banyak hikmah. Sayangnya ditengah perjalanan, sang anak menambah cerita baru yang sama sekali tidak diharapkan.

Ya, begitulah lebih kurang. Harta, anak dan istri adalah fitnah bagi orang tua.

“Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 28).

Cobaan yang dimaksudkan bukanlah hanya sekedar berupa kesulitan, kesengsaraan atau sejenisnya melainkan juga bisa berupa kesenangan, kenyamanan dan lain-lain.

Secara konteks, hal-hal diatas bukanlah tertuju hanya pada sang anak melainkan menyentil domain orang tua, bagaimana cara ia memberikan pendidikan, pengertian dan begitu juga bagaimana ia dapat bersabar mengambil sikap ketika ia diposisikan pada situasi yang tersulit sekalipun.

Alhamdulillah, akhirnya bapak tadi mengerti dan mengurungkan niatnya.

Sesaat setelah semuanya berlalu, aku hanya duduk diam terpaku. Tak disadari air mataku tak mampu terbendung, bukan karena iba saksikan ayah dan anak yang tak henti menangis tadi tetapi kejadian ini mengingatkanku akan 2 sosok tubuh rentah dirumah.

Yang terkadang kita terlambat menyadari bahwa begitu besar, begitu berat dan begitu tulus ikhlas perjuangan mereka hanya untuk melihat kita berpakaian sekolah dan tersenyum indah.
__________________
“Allahummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”.

Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil. Amiinn.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar