Jumat, 14 Oktober 2016

KANJENG, AKAL DAN HATI


Karismatik dan alibi peretas videotron sepertinya tidak mampu menggeser rate topik nasional kasus yang menerpa Kanjeng Dimas Taat Pribadi (Desa Wakal Kec. Gading Kab. Probolinggo).

Kasus penipuan dengan maksud menggandakan uang berkedok padepokan, jelas menggetarkan tanah persilatan. Mulai dari banyaknya pengikut (ribuan) yang mempercayai kalau sang Kanjeng mampu mencetak uang layaknya sebuah bank sampai link-link terbangun kepada tokoh dan elit nasional.

Sebelumnya, padepokan Brajamusti juga menghiasi layar tv dengan topologi korban yang hampir sama, rakyat biasa, artis, elit politik dan publik figur yang secara tak langsung menyibak tabir tipikal rakyat dari jelata sampai Petahana yang masih menganggap kekuatan uang (the power of money) adalah satu-satunya solusi menggapai keinginan.

Wajar saja banyak pejabat dan para intelektual terjerembab dalam kasus penyalahgunaan uang demi kepentingan pribadi, keluarga dan kelompoknya (korupsi).

Tentu kita tidak bisa mengambil satu angle saja dalam menilai kejadian yang terus berulang ini, perlu juga ada kajian dari sudut pandang pragmatis realitas sosial, budaya, politik dan ekonomi bangsa.

Fenomena Kanjeng Dimas dan Brajamusti bisa menjadi gambaran konkrit sosial masyarakat yang masih memegang teguh budaya instan. Budaya ingin cepat kaya tanpa susah payah, pengen cepat terkenal tanpa prestasi, ingin cepat naik jabatan tanpa kerja keras dan lain sebagainya.

Lalu mengapa sampai ada golongan intelektual dan para cendikia bertengger dalam barisan “korban”.
Azyumardi Azra, Guru Besar Fak. Adab dan Humaniora UIN Jakarta menuturkan fenomena tersebut terjadi karena adanya disorientasi dan dislokasi sehingga mengakibatkan krisis kepribadian, obsesi politik, kekuasaan dan jabatan serta kerakusan harta dan uang selain kesulitan finansial karena terlilit hutang dan sebagainya (Kompas, 06/10/2016).

Sesuai dengan kodratnya, manusia selalu mencari cara untuk mengembangkan dirinya termasuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan wawasan. Dalam ajaran Islam sendiripun mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu pengetahuan sebagai wahana dalam membangun peradaban bahkan sampai pasca kehidupan, “mencari ilmu itu adalah wajib bagi muslim laki-laki maupun muslim perempuan”, HR. Ibnu Abdil Barr.

Otak manusia diciptakan Allah swt ibarat harddisk super yang dapat menampung jutaan-milyaran data (ilmu pengetahuan/wawasan) sepanjang hayatnya dan biasanya jika seseorang karena tingkat kemampuan ilmu pengetahuan dan wawasannya dianggap lebih tinggi dari yang lain maka dikategorikan sebagai kaum intelektual dan menjadi magnet bagi yang lain, bahkan dijadikan kiblat dalam melangkah kaum dibawahnya.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”, QS. Al-Mujadallah 11.

Akan tetapi tingginya ilmu pengetahuan dan luasnya wawasan akan menjadi bumerang (fitnah)bagi dirinya sendiri dan mencelakakan orang-orang disekitarnya jika dalam kehidupan ia aplikasikan dengan hanya menggunakan akal pikiran tanpa sedikitpun keterlibatan hati (tempat bernaungnya iman).

Disfungsi hati ini lah yang menjadikan para intelegensi masuk dalam pusaran ilusi janji-janji para penipu dibalik jubah nan suci dan disfungsi hati juga lah yang membuat para korban masih bertahan walau sang “Kanjeng” sudah ditahan :(, wallahua'lam.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar