Langsung ke konten utama

Urgensi Pendidikan Pancasila; Penguatan Identitas Nasional di Era Globalisasi #9

Globalisasi merupakan fenomena multidimensional yang membawa dampak signifikan bagi kehidupan bangsa Indonesia. Perkembangan teknologi informasi, perdagangan internasional, migrasi, serta pertukaran budaya yang semakin masif menjadikan dunia seolah tanpa batas. Globalisasi menawarkan peluang besar dalam bidang ekonomi, teknologi, pendidikan, dan budaya. Misalnya, arus informasi digital memungkinkan akses cepat terhadap pengetahuan dan inovasi, serta memperluas jaringan diplomasi dan kerja sama internasional (Suryadinata, 2010).
Namun, di sisi lain, arus globalisasi membawa tantangan serius terhadap identitas nasional. Budaya global yang dominan cenderung bersifat hedonis, individualis, dan materialistis, sehingga mudah memengaruhi perilaku dan gaya hidup generasi muda. Fenomena ini terlihat melalui konsumsi media sosial, hiburan populer, fashion, dan gaya hidup urban yang seringkali mengadopsi nilai asing yang tidak selaras dengan kearifan lokal (Huntington, 1996). Jika tidak diantisipasi, penetrasi budaya global ini berpotensi mengikis nilai-nilai kebangsaan yang telah menjadi fondasi Indonesia.
Pancasila sebagai Filter dan Pedoman Budaya Global

Identitas nasional Indonesia berakar pada Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Pancasila, sebagai dasar negara dan ideologi bangsa, memiliki fungsi strategis sebagai filter terhadap arus globalisasi. Nilai-nilai Pancasila berperan menjaga moral, spiritual, dan sosial bangsa dari pengaruh negatif global. Misalnya:
  • Ketuhanan Yang Maha Esa: Mengajarkan spiritualitas, toleransi antarumat beragama, dan membentuk karakter religius.
  • Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Menekankan penghormatan terhadap martabat manusia, inklusivitas, dan keadilan sosial.
  • Persatuan Indonesia: Memperkuat solidaritas kebangsaan dan menjaga integritas wilayah NKRI.
  • Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan: Menekankan demokrasi deliberatif, musyawarah mufakat, dan partisipasi aktif masyarakat.
  • Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Menegaskan pentingnya pemerataan kesejahteraan, pengentasan kemiskinan, dan keadilan sosial dalam kehidupan bersama (Latif, 2018).
Melalui internalisasi nilai Pancasila, masyarakat Indonesia dapat menyaring pengaruh global yang kontraproduktif dengan jati diri bangsa. Pancasila bukan hanya doktrin formal, tetapi pedoman hidup yang mampu membimbing bangsa dalam menghadapi dinamika global.
Dimensi Sosial, Politik, dan Budaya dalam Penguatan Identitas

Penguatan identitas nasional tidak hanya bersifat ideologis, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, politik, dan budaya.
  1. Aspek Sosial: Pendidikan Pancasila melalui kurikulum formal dan nonformal menjadi instrumen utama membangun karakter bangsa. Generasi muda perlu dibekali tidak hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kesadaran moral dan kebangsaan (Kaelan, 2016). Program ekstrakurikuler, pembelajaran berbasis proyek sosial, dan kegiatan kepemudaan berbasis nilai Pancasila menjadi metode efektif dalam internalisasi nilai.
  2. Aspek Politik: Keteladanan pemimpin negara dan pejabat publik menjadi indikator penting penguatan identitas nasional. Krisis kepemimpinan atau korupsi merusak kepercayaan publik dan mengikis identitas kebangsaan. Penerapan prinsip demokrasi Pancasila yang menekankan musyawarah dan keadilan sosial dapat menjadi contoh konkret bagi masyarakat.
  3. Aspek Budaya: Revitalisasi budaya lokal dan pelestarian kearifan lokal menjadi strategi penting menghadapi homogenisasi budaya global. Seni tradisional, bahasa daerah, dan adat istiadat tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikemas secara kreatif agar relevan dengan generasi modern, misalnya melalui digitalisasi atau festival budaya (Soejono, 2015).
  4. Literasi Digital Berbasis Nilai Pancasila
Dalam era Revolusi Industri 4.0, media digital menjadi arena utama interaksi generasi muda. Tanpa literasi digital berbasis nilai, ruang digital berpotensi menjadi saluran arus ideologi transnasional yang bertentangan dengan Pancasila. Literasi digital yang efektif mencakup kemampuan kritis, etis, dan bijak dalam memilah informasi, menjaga etika komunikasi, serta memahami hak dan kewajiban di ruang publik (UNESCO, 2015). Misalnya, penggunaan media sosial harus diarahkan untuk memperkuat persatuan, menghormati perbedaan, dan mengedukasi masyarakat.
Tanggung Jawab Bersama

Penguatan identitas nasional di era globalisasi merupakan tanggung jawab kolektif antara pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat, dan keluarga. Pemerintah dapat memperkuat regulasi dan program literasi, lembaga pendidikan menanamkan nilai Pancasila secara sistematis, masyarakat menjaga tradisi dan budaya, sementara keluarga menjadi lingkungan utama pembentukan karakter. Dengan strategi ini, bangsa Indonesia mampu menjaga jati dirinya, sekaligus tetap terbuka terhadap inovasi dan dinamika global. Identitas nasional yang kokoh menjadi modal utama menghadapi kompetisi global dan memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional.
 
Referensi
  • Huntington, S. P. (1996). The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New York: Simon & Schuster.
  • Kaelan. (2016). Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.
  • Latif, Y. (2018). Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila. Jakarta: Gramedia.
  • Suryadinata, L. (2010). Globalization and National Identity in Southeast Asia. Singapore: ISEAS.
  • Soejono, R. (2015). Pelestarian Budaya Lokal dalam Era Globalisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • UNESCO. (2015). Rethinking Education: Towards a Global Common Good? Paris: UNESCO Publishing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Togel dari Kacamata Probabilitas

Sudah tak asing lagi telinga ini mendengar percakapan orang-orang di sekaliling membahas judi angka (Togel), lama-lama aku jadi penasaran dan akhirnya memberanikan diri tuk bertanya cara atau aturan main serta berapa hadiah yang didapatkan. Tanpa ragu bahkan semangat 45 (heheh kin terlalu lebay kosakatanya) teman tadi panjang lebar menjelaskan. "Kita tinggal memasang 2, 3, atau 4 angka, jadi misalnyo keluar 2 angko, kito dapat hadiah duit Rp. 60.000,- dipotong pajak" masih juga belum jelas, akupun bertanya lagi, "pernah dak yang keluar tu angko dobel", lalu dijawabnya "biso bae, malah kadang angko minggu kemaren biso keluar lagi". Alhamdlh setelah mendengar jawaban tadi aku mulai sedikit banyak dapat data (deret angka 0 - 9, dicari kemungkinan muncul pasangan 2, 3 dan 4 angka dan boleh berulang. 2 angko dapat 60.000). Selama perjalan pulang, aku teringat dengan pelajaran waktu SMA dulu tentang bab peluang walau saat itu saya termasuk...

Pembelajaran Berbasis Teknologi: Konsep Dasar #1

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa transformasi besar dalam dunia pendidikan. Proses pembelajaran yang sebelumnya bersifat tradisional kini beralih menuju model pembelajaran berbasis teknologi. Artikel ini membahas konsep dasar pembelajaran berbasis teknologi, meliputi pengertian, landasan teoretis, karakteristik, bentuk implementasi, kelebihan, serta tantangan yang dihadapi. Dengan pemahaman yang komprehensif, diharapkan pendidik dan peserta didik mampu mengoptimalkan peran teknologi sebagai sarana pembelajaran di era digital. Revolusi Industri 4.0 dan perkembangan teknologi digital telah mengubah paradigma pendidikan secara signifikan. Pembelajaran yang dulunya hanya berpusat pada ruang kelas kini dapat dilakukan secara daring dengan dukungan perangkat digital. Menurut UNESCO (2013), pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak hanya meningkatkan efisiensi pembelajaran, tetapi juga mendukung tercapainya keterampilan abad 21, yakni berpikir kritis, kre...

Gen Z dan Alpha (Tantangan Guru Masa Depan)

Veteran Generation 1925 – 1946  Baby Boom Generation 1946 – 1960  X Generation 1960 – 1980  Y Generation 1980 – 1995  Z Generation 1995 – 2010 Alfa Generation 2010 +  Bencsik dan Machova (2016):  Suhartono (2021: 38), generasi Z adalah generasi yang lahir dari tahun 1995-2010, sedangkan generasi alpha adalah mereka yang lahir setelah tahun 2010.  Generasi Z adalah generasi dengan mobilitas digital yang cukup tinggi. Saat ini mereka hampir seluruhnya bergantung pada perangkat seluler. Bahkan, untuk pengerjaan tugas-tugas di sekolah, mereka cenderung memilih perangkat mobile (Fiandra, 2020: 56).  Baru sebagian pelajar Indonesia yang mendapatkan akses internet dan komputer sehingga definisi ini tak sepenuhnya relevan dengan kondisi bangsa ini. Ada kesenjangan digital antara mereka yang berada di wilayah dengan internet yang baik dengan mereka yang berada di wilayah yang tidak berinternet.  Di sisi lain kesenjangan juga terjadi dalam kepemilikan ...