Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ummi

Self Reflection

Ada beberapa guru yang hadirnya membekas di hati  Ada yang biasa saja, berlalu tanpa kesan. Ada juga yang petuah nya selalu membayangi langkah Namun tak sedikit pula yang menorehkan luka... Guru hanyalah manusia biasa Yang kadang khilaf, salah, lupa.... Apalagi guru honorer nun di pelosok sana Yang keberadaan nya terlihat begitu penting tapi termarjinalkan. Masalah ekonomi, keluarga, kadang terbawa hingga sekolah. Beberapa orang mencibir saat  memutuskan mengambil FKIP kala kuliah, bahkan terlihat tatapan kecewa guru- guru SMA untuk mereka yang diterima kuliah keguruan Entah apa yang ada di benaknya mungkin berharap anak didiknya bisa menjadi "lebih" dari mereka. Menjadi guru bukan impian siapapun sepertinya Makanya  guru adalah pilihan cadangan saat tes masuk kuliah. Karena di republik ini, guru adalah profesi biasa, yang tak menjanjikan jadi kaya. Jujur, mengajar itu lelah... Saat apa yang harus terjadi tak sesuai kata hati Saat nilai yang tertera harus standar pemerint...

Be a Wise Parent

Hari itu, Saya mendapat kunjungan beberapa orang wali murid yang memang sengaja diundang terkait ujaran kebencian oleh salah seorang anak mereka pada salah satu guru kami di sosial media. Berawal dari Si guru yang memberi remedial berbentuk tugas kepada beberapa murid karena mendapat nilai yang kecil di bawah KKM. Si anak yang sepertinya tidak terima dengan tugas remidi yang banyak, menumpahkan kekesalannya pada kawan2 di grup WhatsApp nya dengan kata2 yang sangat tidak layak ditujukan kepada guru. Qodarullah, chat itu discreenshoot oleh salah seorang temannya di grup dan dijadikan status atau snap, dari sanalah kemudian terbaca oleh si guru. Yang ingin saya soroti, bukan tentang si anak. Justru tanggapan orang tua terhadap perilaku anak2 nya tersebut. Dengan senyum ringan tanpa beban seorang wali murid berujar " Masih anak2 Bu, mohon dimaklumi...gak usah diambil hati, lupakan saja, jangan dendam " Cukup kaget saya mendengarnya, tidak menyangka kalau tanggapan nya seperti it...

Dari Jendela SMP Ku...

Baiklah saya juga akan menjawab tantangan tantangan siapa ya? Maaf saya tidak memposting foto tapi tulisan saja. .. Dari Jendela SMP Ku... Pagi itu langit mendung, tapi tak menyurutkan langkah ku untuk pergi ke sekolah, beberapa anak berseragam putih biru tegak bergerombol di depan gapura desa, Dengan tujuan sama. Menunggu angkutan umum. Kuhampiri beberapa teman ku yang duluan berdiri disana. Kami larut dalam obrolan yang itu2 saja tapi anehnya tak ada kebosanan. Beberapa angkutan mulai lewat, tapi sudah penuh sesak oleh anak2 sekolah dari desa sebelumnya. Kami putuskan untuk menunggu angkutan lain. Angkutan kedua, tiga dan seterusnya masih juga tampak penuh ditambah hari mulai beranjak siang, saingan bukan hanya dari sesama pelajar tapi juga ibu2 yang akan berangkat ke pasar. Wajah kami mulai cemas, takut terlambat. Terbayang wajah kepala sekolah kami yang tidak bersahabat melihat murid2 nya datang terlambat. Syukurlah akhirnya ada sebuah mobil angkutan yang datang terseok- seok dari...

17 Juni 2009

Hari ini sebelas tahun yang lalu, rasanya masih terbayang berat dan letih nya perjuangan ummi demi melihat mu terlahir ke dunia nak... Semua sirna, saat tangis mu memecah di kesunyian malam. Mengalunkan irama syahdu mengiringi lengkap nya cerita hidup kami. Putri sulung ummi...yang mungkin jika bisa memilih, kau akan memilih lahir dari rahim ibu lain, karena ummi bukan ibu yang sempurna... Engkau, uji coba kami orang tua mu. Yang tak punya cukup bekal untuk menjadi orang tua yang baik dulu. Betapa banyak kesalahan ummi pada mu nak... Tapi yakinlah...walau kami mungkin bukan yang terbaik , tapi hadirmu lah yang melengkapi hidup kami hingga jadi hidup yang terbaik . Maaf kan ummi, jika belum bisa menjadi ibu yang sempurna untuk mu dan adik2... Walau tak terucap, yakinlah ummi bangga dan bahagia memiliki putri seperti mu.... Do'a terbaik untuk mu hariini dan nanti, tetaplah menjadi anak yang berbakti. Untuk agama, orang tua dan negara mu. Adzkia Syifa Ainun Najah

Pagi itu di tahun 1990

Kring....bapak membunyikan sepeda onthel tua nya, membuyarkan konsentrasi kanak2 ku yang tekun mengamati untaian bunga pohon bonsai yang tumbuh berjejer di tepi rumah. "Ayo naik", kata bapak sambil menepuk boncengan belakang sepeda. Aku berlari mendekat, Hari itu Hari pertama aku masuk sekolah dasar. SD tempat ku sekolah tidak jauh dari rumah, tapi karena bapak Ada keperluan ke tempat lain, bapak mengajak ku naik sepeda. Gerbang sekolah berdiri gagah menyambut kami, warna nya biru dengan tulisan besar ditengah2, SDN 1 Banjarsari. Sekolah yang melahirkan banyak orang2 hebat dikemudian Hari. Keadaan tampak ramai hari itu, murid2 berbaur dengan orang tua yang mengantar anak2 nya. Langkah kecil ku tertatih mengikuti bapak yang berjalan duluan. Mata ku nanar mangawasi setiap sudut sekolah, perasaan ku campur aduk, antara senang Dan takut. Seseorang menyapa bapak. Sosok berkaca mata, tinggi, berambut keriting datang mendekati kami. " Ayo kesini, katanya sambil tersenyum.......

Menikah adalah proses belajar atau belajar beproses?

Malam itu, aku katakan pada nya... Kita tak pernah cukup bekal untuk memulai rumah tangga ini Kau orang biasa, aku pun sama. Kita, 2 insan yang disatukan bukan dasar cinta semata. Kita hanyalah 2 orang buta yang mencoba meraba2 bentuk sakinah Menyelam dalam samudera mencari mawaddah Berharap rahmah Nya senantiasa menaungi walau menyadari siapalah kita. Sungguh, kalaulah bahagia itu diukur dari materi Betapa banyaknya keluaga miskin yang berpisah Bila diukur dari keluasan ilmu agama Alangkah banyak orang2 amniah seperti Kita yang gagal mempertahankan rumah tangga. Tapi Kita masih bersama, bertahan dengan segala ke "biasa" an kita. Terima kasih, telah bertahan dengan segala kekurangan ku selama ini... Hanya untaian do'a yang bisa aku munajat kan di hari berkurang nya usia mu... Semoga Allah menjaga mu dalam perjalanan singkat ini dan senantiasa membimbing mu dalam keistiqomahan. Ferry Heryadi

The Power of 10.000

Sore itu, si Ayuk cerita kalau hari itu di sekolah dia tidak makan katering seperti biasa. Cerita nya berawal dari si A (temannya) bera ntem dengan si B Karena rebutan duit 10.000 yang ditemukan di bawah meja di kelas. Si A nangis, karena duit itu untuk bayar katering makan siang. Si B juga tidak mau mengalah, Dan merasa kalau itu duit nya. Di tengah pertengkaran itu si Ayuk memberikan duit katering 10.000 nya tuk si A. "Kasihan mi, dia nangis..." "Jadi, ayuk gak makan?" tanya ku " Gak" jawab nya " Teman ayuk, si A tadi, makan?" Tanya ku lagi Si Ayuk mengangguk... Melihat ummi nya nampak heran si Ayuk berujar "Gak apa2 umi...si A kan teman baik aku, rumah nya juga lebih jauh, lagian ayuk gak terlalu laper" Aku tersenyum kecil, bukan masalah si Ayuk makan atau tidak, hanya tidak menyangka Si Ayuk sebegitu baik nya. Hal yang mungkin jarang terpikir oleh kita, rela memberikan sesuatu yang sebenarnya Kita juga butuh. Si Ayuk bisa saja diam...

Simpang Timbangan, Saksi Meraih Cita

Part 2 Masih ingatkah sobat, masjid Al Hijrah yang dulu sering kita datangi untuk sholat Tarawih?Kondisi sekarang sudah jauh lebih baik, lebih megah, lebih cerah dan bertingkat. Tapi sepertinya tidak lebih ramai daripada dulu. Ada lagi satu bangunan yang dulu sangat lekat dengan Simpang Timbangan. "Rumah Makan Buana". Tempat pemberhentian saya dari mudik, sebut saja " stop Timbangan mang"... dan sopir pun akan menghentikan mobil nya tepat di depan rumah makan ini. Rumah makan dulu tidak semenjamur sekarang. Seingat saya, Buana adalah rumah makan terbesar di Timbangan kala itu. Rumah makan yang tentu saja tak terjamah oleh kantong mahasiswa, kecuali saat sahabat kami Vamos Angie, datang menginap, berkali-kali kami ditraktir makan di sana... Thanks sist... 🥰 Rumah makan Buana kini sudah tinggal kenangan. Bangunan nya masih ada tapi sudah tidak berfungsi. Tidak jauh dari rumah makan Buana, persisnya di sebelah kanan, ada sebuah toko kelontong yang sering ...

Simpang Timbangan, Tempat Penuh kenangan

Part 1 Melihat suasana timbangan sekarang tampak tak jauh berbeda dari 13-15 tahun yang lalu saat aku pernah menjadi bagian dari nya. x Hutan kecil di ditengah2 jalan tampak masih sama, Timbangan sekarang tampak lengang, entah kenapa? Lebih ramai saat kami kuliah dulu, tampak nya mahasiswa sekarang tak terlalu suka keluar Kos. Jalanan yang dulu berseliweran oleh angkot kuning kini tak begitu ramai lagi, mamang2 becak yg dulu mangkal di sisi2 jalan tak terlihat lagi, mahasiswa sekarang kebanyakan bawa kendaraan sendiri, terlihat dari kos-kosan sekarang yang wajib dilengkapi garasi. Timbangan dulu di sore hari, dipenuhi oleh anak2 kos yang bosan berdiam diri di Kos yang sumpek, berjejal menyelesaikan tugas kuliah di rental2 komputer yang selalu ramai dikunjungi. Komputer saat itu masih barang langka untuk dimiliki sendiri. Mengantri di wartel Trifika untuk menelpon keluarga perihal uang bulanan, Mampir membeli es puter yang saya lupa nama nya, tak lupa belanja kebutuh...

Let's Talk With Heart

Malam itu setelah makan, dgn lugu nya si Adek berkata "Untunglah ya jadi anggota keluarga ini, bukan keluarga orang lain" Dengan sedikit kaget aku tanya apa maksud nya berkata begitu "Ibu nya si A (teman main nya) suka marah2, kalau manggil teriak2, suka mukul" Katanya lagi. Dengan masih takjub karena tidak menyangka anak usia 5 th bisa ngomong seperti itu, ku dengarkan lagi perkataan si Ayuk. "Iya mi, kemarin aja pas kami main di lapangan ibu nya teriak2 sampe kdengaran kemana2, itu kan buat orang jadi malu, merendahkan harga diri anak" What? Harga diri? Darimana si Ayuk belajar kata itu... Dengan tak bisa menahan senyum Aku mencoba menimpali "Itu karena anak nya nakal kali, gak nurut jadi ibu nya marah, atau mungkin ibu nya lagi kecapekan" Mereka berdua terdiam, entah karena setuju atau entahlah, mereka tidak bertanya lebih lanjut. Obrolan singkat malam itu membuat ku sadar akan satu hal, bahwa ternyata anak merekam den...

Just Wait and See

Pulang sekolah hari itu Putri tertua ku berkata kalau besok siang dia akan belajar kelompok. "Sudah diputuskan mi, belajar nya di rumah kita, karena rumah kita yang paling dekat dengan sekolah " kata nya dengan semangat Dengan sedikit mengernyit aku menimpali " keputusan siapa yuk?" " Umi..., yang lain rumah nya jauh semua. kita sudah janjian pulang sekolah besok kumpul lagi di sekolah jam 2, terus baru bareng-bareng ke rumah kita". Dengan masih keheranan ku tanya lagi " belajar kelompok buat apa yuk, orang tua nya setuju?, gak usah dulu lah yuk, umi aja yang bantu buat tugas nya" Karena baru kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah atau setara SD belajar kelompok masih terasa mengagetkan bagi umi muda seperti saya, apa iya orang tua nya setuju anak-anak mereka belajar kelompok karena sekolah saja mereka masih diantar jemput. Dengan cepat si ayuk menjawab " Ya minta izin dulu lah mi sama orang tua, tugas nya tu buat kliping hewan mama...

Danau Teluk Seruo

Sambil menatap air berwarna biru yang bening, Putri sulung ku selalu mengulang2 pertanyaan, kenapa dinamakan teluk seruo.  Karena keterbatasan informasi ku jawab sekenanya saja, itu hanya sekedar nama. Setelah ku tanya ke penduduk asli , Seruo ternyata adalah nama salah satu alat menangkap ikan. Jadi teluk Seruo artinya kira-kira, teluk tempat mencari ikan dengan menggunakan seruo.hhmm... Ternyata banyak yang belum aku kenal walau hampir sepuluh tahun menjadi penduduk sini... Tempat wisata yang cukup potensial sebenarnya, hanya perlu pengembangan dan promosi. Satu lagi perlu kesadaran pengunjungnya juga, karena walau kotak sampah bertebaran dimana2, sampah tetap saja berserakan dimana-mana, bahkan sampai ke danau.... # love  our environment# # Danau  Teluk Seruo#

There is No Reason to Hate Cat

Do you like cat...? Dulu saya akan otomatis menjawab 'NO" Dengan alasan, saya tidak suka bulunya yang kata orang berbahaya, cara pup nya, suka maling nya, tidurnya yang suka di sembarang tempat dan bla...bla...pokoknya tidak suka. Do you know that Rasullulah likes cat? Gimana ceritanya? Seorang sahabat yang bernama Anas, pernah disuruh Rasul untuk menuangkan air ke dalam bejana untuk wudhu Rasullulah, namun tiba-tiba datang seekor kucing dan meminum air dalam bejana itu. Nabi tidak mengusirnya, malah menunggu kucing tersebut selesai minum. Kemudian nabi berwudhu dari sisa jilatan kucing tersebut. Melihat hal itu Anas heran. Nabi pun bersabda ," ya Anas, kucing termasuk perhiasan rumah tangga. Ia tidak dikotori sesuatu, bahkan tidak ada najis". Pernah suatu ketika karena rasa sayang nabi kepada kucing, beliau rela memotong lengan jubahnya yang sedang ditiduri kucing kesayangan beliau... Saya mulai goyah, benarkah ditubuh kucing itu tidak ada najis? Masa...

Mencari Cermin Diri, Haruskah?

Banyak kita dengar orang berkata " pantas berjodoh, sama-sama ganteng dan cantik ". " satu nya pendiem, satu nya lagi rame, jadi memang sejodoh ". " sama-sama pelit emang jodoh" " Jodoh itu saling melengkapi, yang cantik sama yang jelek, yang kurang cantik ketemu nya sama yang ganteng "...bla..bla Loh, katanya jodoh cerminan diri, dilihat dari mana?. Yang sama karakter berjodoh, yang jauh beda juga berjodoh, terus dimana letak cermin nya? Ada yang saking sibuk nya cari cermin diri sampai merelakan diri jadi "trial and error". Berburu jodoh yang pas dengan sarana yang jauh dari syariat. Yup, pacaran. Pacaran dipahami oleh mayoritas anak muda sebagai sarana pencarian cermin tadi, hingga lupa bahwa esensi jodoh tidak lah berkorelasi dengan kualitas dan kuantitas pacar, apalagi intensitas berpacaran. Saya yakin pasti ada yang akan bilang gini, " serius amat, masa muda sekali, it's just for fun...masalah jodoh atau ngga...

Say No to Plagiat

Beberapa hari yang lalu, saya membaca postingan dari seorang teman di FB. Menarik sekali isinya hingga banyak yang like dan tidak sedikit juga yang komen dan izin share. Tak terkecuali saya sendiri, karena penasaran saya sampai membuka profil si penulis, karena tidak semua teman di FB saya kenal. Dan kemarin, saat browsing di google, saya mendapati tulisan yang sama persis dengan yang di posting teman tadi. Tentu saja saya kaget, karena yang bersangkutan sama sekali tidak menyebutkan sumber, penulis asli atau kata-kata copas (copy paste) di tulisan nya itu. Saya mencoba berpositif thinking, mungkin dia lupa, tidak sadar, atau tidak tahu hukum nya. Jadi, saya posting tulisan ini dengan maksud agar saya, teman tadi dan kita semua mengerti apa sebenarnya plagiat itu. Menurut Wikipedia, plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana...

Semuanya Kembali pada Niat

Jika saya cermati, banyak dari kita yang fobia dengan postingan. Yang posting anak, suami, istri, prestasi takut dicap riya'. Posting masalah agama takut dikomen sok alim, fanatik. Share berita Islami, takut dikomen hoax, tidak tabayyun dll. Terus kita mesti gimana? Membiarkan postingan jahiliyah merajai sosmed? Kadang sebelum posting tulisan atau gambar, mesti ditulis "abaikan jika tak suka", " untuk diri saya pribadi", dan kata-kata lainnya yan g menunjukkan kalau orang tersebut merasa akan dibully, dikarenakan postingan nya itu. Menurut saya, tidak bijak menilai kadar takwa seseorang dari postingan nya. Karena itu mutlak hak Allah. Jadi sangat salah jika kita tidak jadi memposting sesuatu karena takut dianggap riya' atau dicap sok alim. Guru agama saya dulu pernah berkata "tidak jadi melakukan kebaikan dikarenakan takut dicap riya' adalah riya' itu sendiri". Kata-kata yang lama saya renungkan makna nya, memikirkan takut riya...

How Easy to Find Market

Buka BBM ketemu orang pada jualan,buka Facebook apalagi,kalau dihitung-hitung 7 dari 10 status yang ada adalah berjualan. Bergerak sedikit ke warung dekat rumah, ibuk2 lagi bergerombol. setelah dilihat ternyata lagi milih2 tas online.Nih ada toko diatas toko,bedanya satu real shop satunya lagi maya shop kali ya... Main ke rumah tetangga,belum apa-apa sudah disodori katalog, jenisnya macem2, dari kosmetik sampe perabot rumah tangga.Biar nggak ngecewain si tuan rumah terpaksa katalog nya dibolak-balik sambil ngobrol. Ke tempat kerja ternyata belum terbebas sepenuhnya dari praktek jual beli. Obrolan rekan kerja tak jauh dari memesan jilbab dan gamis model baru serta kuliner homemade yang lagi gencar dipromosikan. Apakah rumah sendiri yang aman dari aktifitas ini? Ternyata tidak juga, sales-sales barang elektronik bergerilya dari rumah ke rumah menawarkan kreditan yang katanya murah meriah. Saya yang memang tidak berbakat bisnis dan niaga cuma bisa pasrah digempur pasar dari s...