Selasa, 30 Juni 2015

Lokak


Kata yang sangat akrab di telinga orang Sumsel, khususnya bagi pribuminya. Kata ini juga akan terasa dekat maknanya bagi semua orang yang telah bermigrasi ke wilayah ini dan lama berbaur dalam kehidupan penduduk asli Sumsel.

"Ado lokak dak?”, kalimat ini sering terdengar dari orang-orang yang membutuhkan pekerjaan atau uang dengan beragam gaya pengucapan sesuai dengan bahasa ibunya masing-masing. Di lain kesempatan, sering juga terdengar dari seorang yang memiliki informasi atau memiliki peluang yang terungkap dalam kalimat “Nak lokak dak!”.

Menurut Drs. Saudi Berlian, M.Si. salah seorang pemerhati budaya Sumsel, awalnya kata “lokak” berasal dari kata “Loka” yang berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti peluang.

Dari kacamata sosiologi bahasa, bila kata ini lebih sering diungkapkan oleh orang yang berpunya atau paling tidak mempunyai informasi dengan ungkapan “Nak lokak dak?”, maka bermakna kepedulian terhadap orang yang membutuhkan. Pada saat yang sama hal itu mengungkapkan adanya solidaritas sosial yang muncul dalam kebiasaan masyarakat yang masih solid dan berpegang teguh pada nilai-nilai budayanya. Budaya saling tolong, misalnyal.

Sebaliknya, bila sering terucap dari orang yang membutuhkan dengan ungkapan “Ado lokak dak?”, maka itu mengacu pada makna keterpecahan sosial. Masyarakat penggunanya berarti telah tidak solid lagi sebab mereka terjebak pada kecenderungan individualisme dan materialistisme atau masyarakat “matre”.

Pada ranah ini yang menjadi standar acuan tindakan dalam kehidupan bermasyarakat adalah “kepentinganku” atau “aku dapat apa?”. 

Ukuran kebaikan dan kebenaran tindakan pun berdasarkan keuntungan yang “Aku dapat”, bukan lagi ukuran norma yang berasal dari Sang Maha Pencipta. Bila untung berarti benar, sebaliknya bila tidak untung atau rugi secara material maka berarti salah.

Akhirnya, kenyataan ungkapan “Lokak” versi mana yang tampil lebih dominan di dalam komunikasi masyarakat kita terkini, maka pada titik itulah kondisi solidaritas sosial kita berada.
Akankah suatu saat nanti kita mendengar ungkapan “Ado lokak pahalo dak?” atau “Ado lokak ibadah dak?”. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar