Jumat, 09 Maret 2018

Diskursus Tak Terbatas

"Mengapa ruang publik belakangan ini penuh dengan perdebatan lawas tentang relasi agama, Negara dan Islam, pluralism, inclusivisme agama hingga Islam dan pancasila kembali diperhadapkan. Bukankah sudah final?".
Itulah sedikit celoteh salah satu teman FB ku yang kalau diperhatikan ada benarnya juga walau sebenarnya tak ada barometer jelas tentang kata “final” karena boleh jadi ia sebagai pengingat/rambu dalam menentukan sikap.
Memang salah satu faktornya adalah modernisasi media informasi dan komunikasi. Pesatnya laju perkembangan IT yang menawarkan kemudahan, cepat, murah dan dikonsumsi publik berdampak pada terbukanya peluang diskursus tak terbatas.
Permasalahannya bukan pada media tapi pengguna. Publik sering kali “gagap” dan inconscious dalam menerima/mengelola sebuah informasi karena sudah sangat langkah orang-orang yang berpikir kritis/Tabayyun seperti kembali membuka lembaran karya ilmiah, korek informasi pembanding, dan sebagainya.
Hannah Arendit menyebutkan “massa” akan sangat mudah disetir dan digiring karena dua hal; tumpulnya hati nurani dan ketidakmampuan berpikir kritis.
Pengguna IT khususnya media sosial sekarang ini memang mudah digiring karena lebih memilih metode instan, jangankan buku induk, buku saku pun mulai ditinggalkan. Selain itu, tumpulnya nurani (disorientasi hati) menambah kegaduhan seantero negeri ini. Prioritas mereka hanya pada sebuah “status/posting” tak bersumber dan kabur.
Fenomena ini tidak hanya melanda kaum awam tapi sudah merangsek ke alam akademisi. Entah apakah bertujuan agar lebih terkenal dengan melempar informasi yang dia sendiri belum menguji, sekedar iseng mengisi jadwal tulis status, ingin dikategorikan golongan yang selalu update informasi atau jangan-jangan hanya obsesi. (menurut riset, 8 dari 10 orang yang menshare, hanya tahu judul dan belum tuntas membaca apa yang ia share)
Media sosial yang menciptakan virtual reality memang memiliki efek positif jika kita cerdas menggunakannya namun hati-hati kalau sebaliknya karena ia juga berpotensi pada realitas sosial (hard reality).

Tidak ada komentar :

Posting Komentar