Langsung ke konten utama

Galau dan Bahagia

Galau dan bahagia memiliki perbedaan tipis yang sulit sekali tuk dibedakan apalagi yang menaunginya adalah orang-orang yang pandai malih rupa dan tingkah. Tidak sedikit kita temui orang yang berkata pusing tapi bibirnya tersenyum atau sebaliknya ia berkata senang namun wajahnya berduka.

Ada juga orang yang rajin update status gambarkan keteguhan jiwa sembari mengajak tuk tabah tapi hatinya sendiri gundah-gulana, (mungkin saja jalan itu dipilih sebagai proses memantapkan hati dan beramal jariyah :)
).

Galau dan bahagia memang susah dinilai namun dapat dirasakan tidak mesti melalui bahasa verbal namun bisa juga dengan pola aksara.

Mungkin kalau melihat judulnya sih, saya termasuk orang yang pesimis atau jangan-jangan sedang galau juga hahaha (terserah.... sekarang era bebas berpendapat :) ), karena mendahulukan kata "Galau" ketimbang "Bahagia". Yang jelas saya memiliki alasan tersendiri karena mengambil sudut pandang akan rasio mengungkapkan rasa kegalauan lebih mudah daripada kebahagiaan.

Kalau tidak percaya, coba saja kita bertanya pada seseorang "Apakah yang membuatmu galau?" dengan tanpa ada komando ia akan langsung menjawab dengan rentetan jawaban (gkgkgk....peluru kale... rentetan) yang begitu banyak dan bahkan terurut abjad.

Tapi situasi ini berbanding terbalik saat kita bertanya "apa yang membuatmu bahagia?", kalaupun ia menjawab, ia pasti membutuhkan sedikit waktu tuk berpikir dan merenung yang ujung-ujungnya malah balik bertanya "Hhhmm...Apa ya...?" atau "Hhmm... bingung juga ya...hehe".

Begitulah kebanyakan orang-orang disekeliling kita yang selalu risau akan ketidakadaan dan kesulitan namun lupa untuk bersyukur dengan apa yang telah dimiliki dan kemudahan. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Togel dari Kacamata Probabilitas

Sudah tak asing lagi telinga ini mendengar percakapan orang-orang di sekaliling membahas judi angka (Togel), lama-lama aku jadi penasaran dan akhirnya memberanikan diri tuk bertanya cara atau aturan main serta berapa hadiah yang didapatkan. Tanpa ragu bahkan semangat 45 (heheh kin terlalu lebay kosakatanya) teman tadi panjang lebar menjelaskan. "Kita tinggal memasang 2, 3, atau 4 angka, jadi misalnyo keluar 2 angko, kito dapat hadiah duit Rp. 60.000,- dipotong pajak" masih juga belum jelas, akupun bertanya lagi, "pernah dak yang keluar tu angko dobel", lalu dijawabnya "biso bae, malah kadang angko minggu kemaren biso keluar lagi". Alhamdlh setelah mendengar jawaban tadi aku mulai sedikit banyak dapat data (deret angka 0 - 9, dicari kemungkinan muncul pasangan 2, 3 dan 4 angka dan boleh berulang. 2 angko dapat 60.000). Selama perjalan pulang, aku teringat dengan pelajaran waktu SMA dulu tentang bab peluang walau saat itu saya termasuk...

Pembelajaran Berbasis Teknologi: Konsep Dasar #1

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa transformasi besar dalam dunia pendidikan. Proses pembelajaran yang sebelumnya bersifat tradisional kini beralih menuju model pembelajaran berbasis teknologi. Artikel ini membahas konsep dasar pembelajaran berbasis teknologi, meliputi pengertian, landasan teoretis, karakteristik, bentuk implementasi, kelebihan, serta tantangan yang dihadapi. Dengan pemahaman yang komprehensif, diharapkan pendidik dan peserta didik mampu mengoptimalkan peran teknologi sebagai sarana pembelajaran di era digital. Revolusi Industri 4.0 dan perkembangan teknologi digital telah mengubah paradigma pendidikan secara signifikan. Pembelajaran yang dulunya hanya berpusat pada ruang kelas kini dapat dilakukan secara daring dengan dukungan perangkat digital. Menurut UNESCO (2013), pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak hanya meningkatkan efisiensi pembelajaran, tetapi juga mendukung tercapainya keterampilan abad 21, yakni berpikir kritis, kre...

Gen Z dan Alpha (Tantangan Guru Masa Depan)

Veteran Generation 1925 – 1946  Baby Boom Generation 1946 – 1960  X Generation 1960 – 1980  Y Generation 1980 – 1995  Z Generation 1995 – 2010 Alfa Generation 2010 +  Bencsik dan Machova (2016):  Suhartono (2021: 38), generasi Z adalah generasi yang lahir dari tahun 1995-2010, sedangkan generasi alpha adalah mereka yang lahir setelah tahun 2010.  Generasi Z adalah generasi dengan mobilitas digital yang cukup tinggi. Saat ini mereka hampir seluruhnya bergantung pada perangkat seluler. Bahkan, untuk pengerjaan tugas-tugas di sekolah, mereka cenderung memilih perangkat mobile (Fiandra, 2020: 56).  Baru sebagian pelajar Indonesia yang mendapatkan akses internet dan komputer sehingga definisi ini tak sepenuhnya relevan dengan kondisi bangsa ini. Ada kesenjangan digital antara mereka yang berada di wilayah dengan internet yang baik dengan mereka yang berada di wilayah yang tidak berinternet.  Di sisi lain kesenjangan juga terjadi dalam kepemilikan ...