Kalimatnya singkat, tegas, dan terasa jujur. Menarik, tetapi
ada sesuatu yang terasa menganjal. Seolah-olah masalahnya ada pada kebaikannya,
padahal yang keliru justru cara kita memaknai kebaikan itu sendiri.
Ungkapan “kalau kita baik sama orang, nanti orang akan baik
pada kita” memang sering terdengar menenangkan. Namun dalam praktiknya,
ungkapan ini kerap melahirkan kekecewaan. Banyak orang sudah berbuat baik
dengan tulus, tetapi yang diterima justru pengabaian, bahkan pengkhianatan.
Dari pengalaman-pengalaman inilah kemudian muncul kesimpulan: ungkapan tersebut
bohong.
Padahal, persoalannya bukan pada ajakan berbuat baik,
melainkan pada ekspektasi balasan yang diselipkan di dalamnya. Kebaikan
diposisikan sebagai transaksi sosial: aku baik padamu, maka kamu seharusnya
baik kepadaku. Ketika balasan itu tidak datang, kebaikan pun terasa sia-sia.
Dalam Islam, cara pandang ini perlu diluruskan. Kebaikan
bukanlah alat untuk mendapatkan respons manusia, melainkan ibadah yang ditujukan
kepada Allah. Al-Qur’an dengan sangat jelas menggambarkan sikap orang-orang
yang berbuat baik secara ikhlas:
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً
وَلَا شُكُورًا
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan wajah
Allah. Kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih
darimu.”
(QS. Al-Insān: 9)
Ayat ini mematahkan anggapan bahwa kebaikan harus selalu
berujung pada balasan manusia. Bahkan ucapan terima kasih pun bukan tujuan utama.
Yang dicari adalah ridha Allah.
Lebih dari itu, Islam justru menegaskan bahwa tidak ada satu
pun kebaikan yang sia-sia, sekecil apa pun bentuknya:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat
(balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7)
Ayat ini memberi kepastian yang menenangkan: mungkin manusia
tidak melihat, tidak mengingat, atau tidak membalas, tetapi Allah tidak pernah
lalai. Balasan itu ada, entah di dunia, di akhirat, atau dalam bentuk yang tidak
selalu kita sadari.
Allah juga menegaskan bahwa dampak kebaikan sejatinya
kembali kepada diri pelakunya sendiri:
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ
“Jika kamu berbuat baik, maka sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri.”
(QS. Al-Isrā’: 7)
Artinya, meskipun manusia tidak membalas, kebaikan itu tetap
bernilai. Ia membentuk hati, akhlak, dan integritas orang yang melakukannya.
Rasulullah ﷺ pun mengingatkan bahwa nilai suatu amal tidak ditentukan oleh
hasil yang tampak, melainkan oleh niat di baliknya:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jika niat berbuat baik adalah balasan manusia, maka kebaikan
itu rapuh, mudah berubah menjadi kecewa, marah, bahkan sinis. Namun jika niatnya
ikhlas karena Allah, maka sikap orang lain tidak lagi menentukan nilai amal
tersebut.
Karena itu, ungkapan “kalau kita baik sama orang, nanti
orang akan baik pada kita” memang bermasalah jika dipahami sebagai janji pasti.
Tetapi menyebutnya bohong tanpa meluruskan niat justru mengaburkan esensi
kebaikan itu sendiri. Berbuat baik bukan strategi agar diperlakukan baik,
melainkan kewajiban moral dan spiritual.
Kebaikan yang sejati justru diuji ketika tidak dibalas,
ketika disalahpahami, atau bahkan ketika dibalas dengan keburukan. Di situlah
ikhlas menemukan maknanya.
Pada akhirnya, berbuat baik bukan soal dunia yang adil,
tetapi soal manusia yang memilih tetap benar, sambil percaya bahwa tidak ada
satu pun kebaikan (sekecil zarrah) yang luput dari balasan Allah.
Dan kalau setelah semua kebaikan itu dunia masih terasa
dingin, manusia tetap dingin, dan chat masih centang satu, tenang saja. Bisa
jadi balasannya bukan dari orang yang kita harapkan, bukan sekarang, dan bukan
lewat jalur yang kita duga.
Yang penting, pahalanya tidak pending, tidak expired, dan
tidak perlu di-follow up.
Allah Maha Tepat Waktu, meski kita sering merasa, “cacam..., kita hoji, tapi dia-nya cak idak aja”😆
______________
🤔Next kita bahas istilah lain yang berseliweran di medsos seperti Dunio Galo Ndo, Usaha Tidak Akan Menghianati Hasil, dll.

Komentar
Posting Komentar