Langsung ke konten utama

Kalau Kita Baik Sama Orang, Nanti Orang Juga Bakalan Baik Sama Kita, Itu Bohong...!!!

Pagi-pagi terlihat status WhatsApp seorang teman satu angkatan PPG Daljab 2023 yang bertuliskan, “kalau kita baik sama orang, nanti orang juga bakalan baik sama kita, itu bohong.”

Kalimatnya singkat, tegas, dan terasa jujur. Menarik, tetapi ada sesuatu yang terasa menganjal. Seolah-olah masalahnya ada pada kebaikannya, padahal yang keliru justru cara kita memaknai kebaikan itu sendiri.

Ungkapan “kalau kita baik sama orang, nanti orang akan baik pada kita” memang sering terdengar menenangkan. Namun dalam praktiknya, ungkapan ini kerap melahirkan kekecewaan. Banyak orang sudah berbuat baik dengan tulus, tetapi yang diterima justru pengabaian, bahkan pengkhianatan. Dari pengalaman-pengalaman inilah kemudian muncul kesimpulan: ungkapan tersebut bohong.

Padahal, persoalannya bukan pada ajakan berbuat baik, melainkan pada ekspektasi balasan yang diselipkan di dalamnya. Kebaikan diposisikan sebagai transaksi sosial: aku baik padamu, maka kamu seharusnya baik kepadaku. Ketika balasan itu tidak datang, kebaikan pun terasa sia-sia.

Dalam Islam, cara pandang ini perlu diluruskan. Kebaikan bukanlah alat untuk mendapatkan respons manusia, melainkan ibadah yang ditujukan kepada Allah. Al-Qur’an dengan sangat jelas menggambarkan sikap orang-orang yang berbuat baik secara ikhlas:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan wajah Allah. Kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih darimu.”
(QS. Al-Insān: 9)

Ayat ini mematahkan anggapan bahwa kebaikan harus selalu berujung pada balasan manusia. Bahkan ucapan terima kasih pun bukan tujuan utama. Yang dicari adalah ridha Allah.

Lebih dari itu, Islam justru menegaskan bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang sia-sia, sekecil apa pun bentuknya:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7)

Ayat ini memberi kepastian yang menenangkan: mungkin manusia tidak melihat, tidak mengingat, atau tidak membalas, tetapi Allah tidak pernah lalai. Balasan itu ada, entah di dunia, di akhirat, atau dalam bentuk yang tidak selalu kita sadari.

Allah juga menegaskan bahwa dampak kebaikan sejatinya kembali kepada diri pelakunya sendiri:

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ
“Jika kamu berbuat baik, maka sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri.”
(QS. Al-Isrā’: 7)

Artinya, meskipun manusia tidak membalas, kebaikan itu tetap bernilai. Ia membentuk hati, akhlak, dan integritas orang yang melakukannya.

Rasulullah ﷺ pun mengingatkan bahwa nilai suatu amal tidak ditentukan oleh hasil yang tampak, melainkan oleh niat di baliknya:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jika niat berbuat baik adalah balasan manusia, maka kebaikan itu rapuh, mudah berubah menjadi kecewa, marah, bahkan sinis. Namun jika niatnya ikhlas karena Allah, maka sikap orang lain tidak lagi menentukan nilai amal tersebut.

Karena itu, ungkapan “kalau kita baik sama orang, nanti orang akan baik pada kita” memang bermasalah jika dipahami sebagai janji pasti. Tetapi menyebutnya bohong tanpa meluruskan niat justru mengaburkan esensi kebaikan itu sendiri. Berbuat baik bukan strategi agar diperlakukan baik, melainkan kewajiban moral dan spiritual.

Kebaikan yang sejati justru diuji ketika tidak dibalas, ketika disalahpahami, atau bahkan ketika dibalas dengan keburukan. Di situlah ikhlas menemukan maknanya.

Pada akhirnya, berbuat baik bukan soal dunia yang adil, tetapi soal manusia yang memilih tetap benar, sambil percaya bahwa tidak ada satu pun kebaikan (sekecil zarrah) yang luput dari balasan Allah.

Dan kalau setelah semua kebaikan itu dunia masih terasa dingin, manusia tetap dingin, dan chat masih centang satu, tenang saja. Bisa jadi balasannya bukan dari orang yang kita harapkan, bukan sekarang, dan bukan lewat jalur yang kita duga.

Yang penting, pahalanya tidak pending, tidak expired, dan tidak perlu di-follow up.
Allah Maha Tepat Waktu, meski kita sering merasa, “cacam..., kita hoji, tapi dia-nya cak idak aja”😆


______________
🤔Next kita bahas istilah lain yang berseliweran di medsos seperti Dunio Galo Ndo, Usaha Tidak  Akan Menghianati Hasil, dll.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Togel dari Kacamata Probabilitas

Sudah tak asing lagi telinga ini mendengar percakapan orang-orang di sekaliling membahas judi angka (Togel), lama-lama aku jadi penasaran dan akhirnya memberanikan diri tuk bertanya cara atau aturan main serta berapa hadiah yang didapatkan. Tanpa ragu bahkan semangat 45 (heheh kin terlalu lebay kosakatanya) teman tadi panjang lebar menjelaskan. "Kita tinggal memasang 2, 3, atau 4 angka, jadi misalnyo keluar 2 angko, kito dapat hadiah duit Rp. 60.000,- dipotong pajak" masih juga belum jelas, akupun bertanya lagi, "pernah dak yang keluar tu angko dobel", lalu dijawabnya "biso bae, malah kadang angko minggu kemaren biso keluar lagi". Alhamdlh setelah mendengar jawaban tadi aku mulai sedikit banyak dapat data (deret angka 0 - 9, dicari kemungkinan muncul pasangan 2, 3 dan 4 angka dan boleh berulang. 2 angko dapat 60.000). Selama perjalan pulang, aku teringat dengan pelajaran waktu SMA dulu tentang bab peluang walau saat itu saya termasuk...

Hasil Perkerjaan Mahasiswa

Halaman ini menampilkan kumpulan hasil pekerjaan mahasiswa Mata Kuliah Pembelajaran Berbasis Teknologi Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Quran Al-Ittifaqiah (UQI) sebagai wujud proses pembelajaran yang menekankan keseimbangan antara pemahaman konseptual, keterampilan praktis, serta kemampuan pemecahan masalah. Setiap karya yang ditampilkan merupakan luaran dari berbagai mata kuliah, proyek kolaboratif, maupun tugas akhir yang dirancang agar relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan keilmuan mutakhir. Melalui publikasi ini, program studi berharap masyarakat, calon mahasiswa, alumni, dan mitra dapat melihat gambaran nyata capaian pembelajaran mahasiswa, kreativitas yang berkembang selama studi, serta kualitas pembimbingan akademik yang diberikan. Kami menyadari bahwa setiap karya masih dapat terus disempurnakan. Oleh karena itu, masukan dan saran dari para pembaca sangat kami harapkan demi peningkatan mutu pembelajaran di masa mendatang. Selamat menikmati ka...

Lokak

Kata yang sangat akrab di telinga orang Sumsel, khususnya bagi pribuminya. Kata ini juga akan terasa dekat maknanya bagi semua orang yang telah bermigrasi ke wilayah ini dan lama berbaur dalam kehidupan penduduk asli Sumsel. "Ado lokak dak?”, kalimat ini sering terdengar dari orang-orang yang membutuhkan pekerjaan atau uang dengan beragam gaya pengucapan sesuai dengan bahasa ibunya masing-masing. Di lain kesempatan, sering juga terdengar dari seorang yang memiliki informasi atau memiliki peluang yang terungkap dalam kalimat “Nak lokak dak!”. Menurut Drs. Saudi Berlian, M.Si. salah seorang pemerhati budaya Sumsel, awalnya kata “lokak” berasal dari kata “Loka” yang berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti peluang. Dari kacamata sosiologi bahasa, bila kata ini lebih sering diungkapkan oleh orang yang berpunya atau paling tidak mempunyai informasi dengan ungkapan “Nak lokak dak?”, maka bermakna kepedulian terhadap orang yang membutuhkan. Pada saat yang sama hal...