Langsung ke konten utama

Postingan

ROMANTISASI AGAMIS

"Aku mencintaimu karena Allah", "ya Allah ridhoilah jalinan kasih kami", "ya Allah jagalah pacarku disana" dsb. Mungkin tak asing lagi kita mendengar/membaca rangkaian kata yang lebih kurang serupa dengan yang diatas. Ya, biasanya sih kalimat itu sering tertempel pada wall FB remaja intelektual yang lagi kasmaran. Sayangnya, tidak sedikit hal tersebut hanyalah s ebatas retorika indah tanpa realisasi lanjutan khususnya dalam aspek amal perbuatan. Begitu kontrasnya terlihat jelas pada etika mereka. Tak terhitung lagi berapa kali bersua serba dua, makan berdua, duduk berdua, jalan berdua, nonton berdua, foto berdua, pegangan tangan berdua (hehe ado yg ngomong klo betigo pulok berarti nak usum, hhmm lah bener pulok), sikok lagi kepalangan kalo janjian nak di gua (gkgkgk...). Tak terhitung juga berapa rupiah dihabiskan untuk pulsa dalam rangka membangun komunikasi basi (katanya sih silaturrahmi) tapi mengotori hati. Masalah buat lho?, ...

DemoKrasi VS DemoRabby

Setelah mengikuti, menyelami, dan merenungkan pelik dan panjangnya prosesi pemilihan wakil rakyat dan pemimpin di negeri ini. Kita pasti dapat menarik satu hikmah pelajaran. Masing-masing kita pasti mencatat yang tentu saja catatannya berbeda satu sama lain. Laksanah seisi kelas yang diperintahkan gurunya untuk membuat karangan bebas, tak ayal tema, alur/plot bahkan metode penulisannya dipengaruhi oleh keadaan hati, emosi, wawasan, imajinasi dan background sosial masing-masing murid. Serunya hiruk pikuk pesta rakyat bangsa ini memang begitu dahsyat dan banyak menguras tenaga, waktu, uang, pikiran bahkan mungkin juga iman. Kedahsyatannya tergambar jelas saat sidang putusan lembaga hukum konstitusi tertinggi NKRI yang mampu mengalihkan pandangan penggemar film "maha dewa dan mahabarata apalagi Hatim" atau jangan-jangan melenakan seorang pencinta burung untuk memandikan burungnya (hahaha.... aidem ngapo laju ke acara flora dan fauna). Namun satu hal yang seja...

Coba memahami kata "Ustad"

Mungkin kita sering mendengar pemberitaan tentang seorang ustad yang naik daun (hehehe.... pecak ulat be), terus ada juga ustad yang jadi buah bibir atau bahkan pergunjingan khususnya di media sosial exp "Seharusnya ustad itu bla... bla...bla....", "ustad kok begitu ya..." dll. Anehnya lagi mata kamera terasa lebih tajam ke arah "ustad" ketimbang yang lain. Ada baiknya kita flashback dulu arti kata "ustad" sambil browsing kudai. Kata "ustad" bukanlah berasal dari bahasa arab melainkan Persia (Iran) artinya guru / pengajar / ahli bidang industri / level tertinggi gelar akademisi. Di negara arab sendiri "ustad" diartikan dosen / ahli / akademisi / pakar. Di Mesir, penggunaan kata ustad cenderung ke arah level tertinggi gelar akademisi, jadi misalnya ustad. Sugiyono itu artinya profesor Sugiono, ustazah. Mariyem artinya profesor Mariyem. Jauh berbeda kalau di India, gelar "ustad" diartikan sebaga...

Serahkan saja pada Tuhan

Menjelang dua hari pilpres, begitu banyak sms yang masuk. Masing-masing isinya berisyaratkan ajakan untuk memilih salah satu pasangan. Tapi ada juga satu sms yang mengajak untuk boikot atau golput, maklumlah dia salah satu anggota ormas y ang bertentangan dengan sistem demokrasi Indonesia sekarang. "selama ini kita terus memilih pemimpin, tapi kita tidak memikirkan sistem apa yang diembannya. " itu lah sedikit kutipan smsnya. Memang benar, sebelum kita jatuhkan pilihan, sejatinya kita harus mengenal dan paham betul dengan apa yang dipilih. Kita harus memiliki pengetahuan tentang bibit, bebet dan bobot akan calon. Sebelum memilih, kita mestinya telah mengetahui bagaimana akhlak dan kepribadiannya, istrinya ada berapa, rumahnya ada dimana-mana dan seterusnya. Lalu.... kalau kita tidak memiliki pengetahuan tersebut terpaksa memutuskan untuk tidak memilih atau golput....??? Mungkin disinilah kita sedikit disentil oleh TUHAN, sebagai manusia biasa tentu kit...

Belajar dari Kisah Marshanda

Ada sesak yang merayap batin setiap kali televisi menayangkan berita tentang artis muda nan cantik jelita “Marshanda”. Bagaimana tidak, publik dibuat terkaget-kaget dengan kejadian-kejadian yang menimpanya. Tidak perlu disebutkan karena saya yakin tidak ada orang yang tidak mengetahui ceritanya. Dari sekian banyak kisah itu ada bepberapa hal yang menyentak perasaan. Salah satunya tentang hubungan Marshanda dengan sang ibu. Apa yang salah ketika seorang ibu turut campur dalam kehidupan putrinya, karena memang begitulah hakikat seorang ibu. Apa yang salah ketika seorang ibu menikmati hasil kerja anak, toh upah mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan tidak akan terbayar dengan bilangan rupiah. Apa yang salah ketika seorang ibu melakukan segala cara untuk melindungi dan menyadarkan anaknya. Apa yang salah? Setiap orang pasti memiliki konflik pribadi dengan orang lain termasuk dengan anggota keluarga. Tapi bagaimana menyikapinya dengan arif itu seharusnya yang ...

Balada Puasa Minggu Kedua: Kesunyian Ikhlas

Tidak asing kita mendengar lawan bicara yang tukas berujar "Ikhlas sih ikhlas tapi harus ada hitung-hitungannya dong..." atau yang seperti ini "kalau mengingat masa lalu, berat rasanya mau menolo ng..." Malah ada juga yang dengan sedikit ngeles dan berjiwa solidaritas tingkat tinggi plus sedikit racikan provokator, hehehe pecak roti komplit bae "Kalau saya sih ikhlas saja tapi yang saya pikirkan itu teman-teman yang lain..." Ya.. lebih kurang seperti itulah... Memang susah dan sangatlah susah kalau kita mau "Ikhlas". Kata ini mudah diucapkan namun akan sangat sulit diamalkan karena ia adalah intisari dari keimanan seseorang dan kualitas tertinggi akan kemurnian hati. Tapi yang jelas, ikhlas itu tidak butuh basa basi apalagi gaduhnya ceremony. Kalau dewi Justitia tertutup matanya, ciri khas ikhlas adalah tertutup mulutnya. _______________________ Met berbuka puasa, semoga kadar pahala puasa hari ini lebih berat dari kemarin....

BELAJAR DARI SITI HAJAR

Nun berabad lampau, seorang perempuan yang dinikahi oleh Nabi Ibrahim as tanpa banyak bicara mengiyakan saat suaminya meninggalkannya di sebuah tanah tandus nan kering kerontang bersama bayi yang baru dilahirkan. Tanpa rumah, tanpa penerangan, tanpa air, tanpa makanan. Sang nabi hanya membekalinya dengan suatu keyakinan bahwa Sang pemilik hidup akan memberikan kemurahan pada hambaNya yang dekat dan berserah diri. ___________ Wahai saudariku... Bisakah kita bayangkan seandainya perempuan itu adalah kita. Bisakah kita terima saat sang suami meninggalkan kita sendirian di tanah tandus dan tak berpenghuni. Bisakah kita setegar Siti Hajar saat tidak ada apa-apa untuk dimakan, tidak ada siapa-siapa tempat mengadu. Tidak ada rumah yang nyaman untuk tempat berteduh. Hanya Siti Hajar yang mungkin bisa seperti itu. Bandingkan dengan kita yang selalu mengeluh. Mengeluhkan keadaan, mengeluhkan "maisyah" yang diberikan suami, mengeluhkan mengapa tidak bisa seperti ini, seperti itu, seper...