Langsung ke konten utama

NOTHING WRONG OF BEING VILLAGER

Beberapa awktu yang lalu seorang sepupuh menelponku. Ia menanyakan kabar dan kegiatan ku sekarang. Kami bertukar informasi tentang keluarga dan anak-anak. Dari ceritanya baru ku ketahui kalau dia tinggal terpisah dengan suaminya yang yang harus pindah tugas ke daerah.

Dia hanya tinggal bertiga dengan anak-anaknya sementara suaminya hanya seminggu sekali berkunjung. Mengingat profesinya yang seorang PNS, saya tanya mengapa tidak ikut mutasi ke tempat suaminya. Dia menolak dengan tegas dengan alasan utamanya karena gaji di daera jauh lebih rendah dari ibu kota provinsi. "biaya sekolah si sulung saja sudah sekian di tambah harus menghentikan kegiatan-kegiatannya yang seabrek, ikut les ini, kursus itu dan sekolahnya yang termasuk sekolah elit, rasanya tidak mungkin untuk meninggalkan itu semua" pungkasnya.

Memang ada benarnya apalagi kalau sudah terbiasa dengan gaya hidup di kota. Tentulah keberatan kalau harus pindah ke kota kecil atau bahkan desa.

Memecah lamunanku, dia bertanya seringkah aku ke kota, karena mengingat daerah tempat ku tinggal tidak terlalu jauh dari kota tempat dia tinggal. Aku hanya menjawab singkat "tidak ada waktu". Selain itu anak-anak yang masih kecil rasanya kurang baik diajak perjalanan dengan sepeda motor. Tampaknya dia terkejut, tapi lebih lagi mendengar komentarnya "jadi anakmu belum pernah lihat mall, makan di mc. Donald, merasakan pizza, mandi di water boom". Sekarang aku yang terdiam. Sedemikian pentingkah tempat-tempat itu hingga orang akan terkejut kalau kita tidak tahu tempat-tempat itu.

Terus terang saya bersyukur tinggal di daerah, saya tidak harus binggung memikirkan bagaimana cara bergaul ala kota, tidak harus pusing melihat banyak "Sale" di mall-mall, Tidak harus stres dengan macet dan kriminalitas kota.

Tinggal di kota praktis selalu sibuk, lihatlah mall-mall selalu di banjiri orang, tidak kenal siang dan malam. Dan seringkali masih banyak orang berkeliaran di jalan saat waktu maghrib (jam wajib berada di rumah bagi keluargaku).

Memang benar, anak-anakku hanya tahu warung depan rumah atau pasar "kalangan", paling keren masuk alfamart atau indomaret. Makan ayam goreng tepung Umminya dan mie goreng + telur yang digoreng dadar yang kami sebut pizza atau juga hanya kenal rawa-rawa tempat bermain, tapi menurut saya tidak ada yang salah...

Terus terang saya tidak malu akan itu.
Saya akan takut dan malu saat anak-anak ku belum mengenal huruf hijaiyah, tidak hafal doa-doa atau tidak tahu sang pencipta dan sosok Rasurullah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Togel dari Kacamata Probabilitas

Sudah tak asing lagi telinga ini mendengar percakapan orang-orang di sekaliling membahas judi angka (Togel), lama-lama aku jadi penasaran dan akhirnya memberanikan diri tuk bertanya cara atau aturan main serta berapa hadiah yang didapatkan. Tanpa ragu bahkan semangat 45 (heheh kin terlalu lebay kosakatanya) teman tadi panjang lebar menjelaskan. "Kita tinggal memasang 2, 3, atau 4 angka, jadi misalnyo keluar 2 angko, kito dapat hadiah duit Rp. 60.000,- dipotong pajak" masih juga belum jelas, akupun bertanya lagi, "pernah dak yang keluar tu angko dobel", lalu dijawabnya "biso bae, malah kadang angko minggu kemaren biso keluar lagi". Alhamdlh setelah mendengar jawaban tadi aku mulai sedikit banyak dapat data (deret angka 0 - 9, dicari kemungkinan muncul pasangan 2, 3 dan 4 angka dan boleh berulang. 2 angko dapat 60.000). Selama perjalan pulang, aku teringat dengan pelajaran waktu SMA dulu tentang bab peluang walau saat itu saya termasuk...

Pembelajaran Berbasis Teknologi: Konsep Dasar #1

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa transformasi besar dalam dunia pendidikan. Proses pembelajaran yang sebelumnya bersifat tradisional kini beralih menuju model pembelajaran berbasis teknologi. Artikel ini membahas konsep dasar pembelajaran berbasis teknologi, meliputi pengertian, landasan teoretis, karakteristik, bentuk implementasi, kelebihan, serta tantangan yang dihadapi. Dengan pemahaman yang komprehensif, diharapkan pendidik dan peserta didik mampu mengoptimalkan peran teknologi sebagai sarana pembelajaran di era digital. Revolusi Industri 4.0 dan perkembangan teknologi digital telah mengubah paradigma pendidikan secara signifikan. Pembelajaran yang dulunya hanya berpusat pada ruang kelas kini dapat dilakukan secara daring dengan dukungan perangkat digital. Menurut UNESCO (2013), pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak hanya meningkatkan efisiensi pembelajaran, tetapi juga mendukung tercapainya keterampilan abad 21, yakni berpikir kritis, kre...

Gen Z dan Alpha (Tantangan Guru Masa Depan)

Veteran Generation 1925 – 1946  Baby Boom Generation 1946 – 1960  X Generation 1960 – 1980  Y Generation 1980 – 1995  Z Generation 1995 – 2010 Alfa Generation 2010 +  Bencsik dan Machova (2016):  Suhartono (2021: 38), generasi Z adalah generasi yang lahir dari tahun 1995-2010, sedangkan generasi alpha adalah mereka yang lahir setelah tahun 2010.  Generasi Z adalah generasi dengan mobilitas digital yang cukup tinggi. Saat ini mereka hampir seluruhnya bergantung pada perangkat seluler. Bahkan, untuk pengerjaan tugas-tugas di sekolah, mereka cenderung memilih perangkat mobile (Fiandra, 2020: 56).  Baru sebagian pelajar Indonesia yang mendapatkan akses internet dan komputer sehingga definisi ini tak sepenuhnya relevan dengan kondisi bangsa ini. Ada kesenjangan digital antara mereka yang berada di wilayah dengan internet yang baik dengan mereka yang berada di wilayah yang tidak berinternet.  Di sisi lain kesenjangan juga terjadi dalam kepemilikan ...