Langsung ke konten utama

Be a Wise Parent

Hari itu, Saya mendapat kunjungan beberapa orang wali murid yang memang sengaja diundang terkait ujaran kebencian oleh salah seorang anak mereka pada salah satu guru kami di sosial media.
Berawal dari Si guru yang memberi remedial berbentuk tugas kepada beberapa murid karena mendapat nilai yang kecil di bawah KKM. Si anak yang sepertinya tidak terima dengan tugas remidi yang banyak, menumpahkan kekesalannya pada kawan2 di grup WhatsApp nya dengan kata2 yang sangat tidak layak ditujukan kepada guru.

Qodarullah, chat itu discreenshoot oleh salah seorang temannya di grup dan dijadikan status atau snap, dari sanalah kemudian terbaca oleh si guru.
Yang ingin saya soroti, bukan tentang si anak. Justru tanggapan orang tua terhadap perilaku anak2 nya tersebut.
Dengan senyum ringan tanpa beban seorang wali murid berujar
" Masih anak2 Bu, mohon dimaklumi...gak usah diambil hati, lupakan saja, jangan dendam "
Cukup kaget saya mendengarnya, tidak menyangka kalau tanggapan nya seperti itu. Dengan menahan sabar dan senyum yang agak dipaksakan saya tanggapi
" Bu, mohon maaf. kalau ibu menganggap ini biasa, kami sungguh sedih, yang kami inginkan adalah kerjasama yang baik antara kita, dari kami pihak sekolah dan dengan orang tua. Demi kebaikan anak kita sendiri. Apalah artinya usaha yang kami lakukan jika tidak didukung orang tua.
Terus apa jawab ibu itu
" Bu, ada asap pasti ada api, anak kami sampai bicara seperti itu pasti ada hal yang membuat nya kesal dan tidak terima dari perlakuan guru nya itu"
Olalah...
Dan saya jawab lagi
" Ibu, inilah yang harus kita benahi...bagaimana cara anak menyikapi masalah. Kesal sedikit menyerang dengan kata2 yang tidak pantas diucapkan, dengan guru yang notabene adalah orang yg harus nya dia hormati saja bisa begitu, bagaimana jika yg membuat kesal itu orang lain, teman nya atau bahkan orang tua nya sendiri, masih maklumlah ibu??, Dan perlu dicatat Bu, zaman sekarang ujaran kebencian bisa kena UU ITE, bisa dipidana. Tapi kami tidak akan melakukan itu, kami hanya berharap hal ini tidak terulang lagi ke depan".
Tegang ya...😅
Mendengar perkataan saya si Ibu tampak sedikit melunak
" Jangan terlalu serius Bu, jangan marah, setiap orang kan tidak luput dari salah" katanya
Ok fix, tiap orang memang tak luput dari salah, tapi membela yang salah menurut saya sungguh tidak bijak, hatta itu anak kita sendiri
Anak2 ini sudah sekolah tingkat atas , yang artinya bukan anak kecil lagi. Yang harus kita sadari, mungkin prilaku anak yang menyimpang adalah kesalahan kita sebagai orang tua, yang menganggap sepele masalah akhlak, atau jangan2 secara tidak langsung kekeliruan kita yang membuatnya seperti itu.
Saya tidak bermaksud menuduh dan menghakimi si Ibu dengan menuliskan ini. Saya hanya ingin menyadarkan kita semua sebagai orang tua untuk bijak dalam menyikapi semua hal yang menimpa anak kita.
Remember, kids are the best imitator...jgn sampai kesalahan kita membuat kesalahan lain bagi kehidupan dia nantinya...
________________________________________________'
Setiap anak adalah amanah bagi orang tuanya. Setiap anak memiliki qalbu (hati) suci sebagai mutiara atau perhiasan yang berharga. Jika setiap anak dibiasakan dengan hal-hal yang baik, ia akan tumbuh dengan kebaikan dan kebahagiaan dia dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan berbuat yang tidak baik dan ditelantarkan pendidikannya seperti hewan, ia akan celaka dan merugi. Oleh karena itu, setiap anak harus dilindungi dengan cara mendidik, meluruskan, dan mengajarkannya akhlak yang baik (Imam Al Ghazali)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Togel dari Kacamata Probabilitas

Sudah tak asing lagi telinga ini mendengar percakapan orang-orang di sekaliling membahas judi angka (Togel), lama-lama aku jadi penasaran dan akhirnya memberanikan diri tuk bertanya cara atau aturan main serta berapa hadiah yang didapatkan. Tanpa ragu bahkan semangat 45 (heheh kin terlalu lebay kosakatanya) teman tadi panjang lebar menjelaskan. "Kita tinggal memasang 2, 3, atau 4 angka, jadi misalnyo keluar 2 angko, kito dapat hadiah duit Rp. 60.000,- dipotong pajak" masih juga belum jelas, akupun bertanya lagi, "pernah dak yang keluar tu angko dobel", lalu dijawabnya "biso bae, malah kadang angko minggu kemaren biso keluar lagi". Alhamdlh setelah mendengar jawaban tadi aku mulai sedikit banyak dapat data (deret angka 0 - 9, dicari kemungkinan muncul pasangan 2, 3 dan 4 angka dan boleh berulang. 2 angko dapat 60.000). Selama perjalan pulang, aku teringat dengan pelajaran waktu SMA dulu tentang bab peluang walau saat itu saya termasuk...

Pembelajaran Berbasis Teknologi: Konsep Dasar #1

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa transformasi besar dalam dunia pendidikan. Proses pembelajaran yang sebelumnya bersifat tradisional kini beralih menuju model pembelajaran berbasis teknologi. Artikel ini membahas konsep dasar pembelajaran berbasis teknologi, meliputi pengertian, landasan teoretis, karakteristik, bentuk implementasi, kelebihan, serta tantangan yang dihadapi. Dengan pemahaman yang komprehensif, diharapkan pendidik dan peserta didik mampu mengoptimalkan peran teknologi sebagai sarana pembelajaran di era digital. Revolusi Industri 4.0 dan perkembangan teknologi digital telah mengubah paradigma pendidikan secara signifikan. Pembelajaran yang dulunya hanya berpusat pada ruang kelas kini dapat dilakukan secara daring dengan dukungan perangkat digital. Menurut UNESCO (2013), pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak hanya meningkatkan efisiensi pembelajaran, tetapi juga mendukung tercapainya keterampilan abad 21, yakni berpikir kritis, kre...

Gen Z dan Alpha (Tantangan Guru Masa Depan)

Veteran Generation 1925 – 1946  Baby Boom Generation 1946 – 1960  X Generation 1960 – 1980  Y Generation 1980 – 1995  Z Generation 1995 – 2010 Alfa Generation 2010 +  Bencsik dan Machova (2016):  Suhartono (2021: 38), generasi Z adalah generasi yang lahir dari tahun 1995-2010, sedangkan generasi alpha adalah mereka yang lahir setelah tahun 2010.  Generasi Z adalah generasi dengan mobilitas digital yang cukup tinggi. Saat ini mereka hampir seluruhnya bergantung pada perangkat seluler. Bahkan, untuk pengerjaan tugas-tugas di sekolah, mereka cenderung memilih perangkat mobile (Fiandra, 2020: 56).  Baru sebagian pelajar Indonesia yang mendapatkan akses internet dan komputer sehingga definisi ini tak sepenuhnya relevan dengan kondisi bangsa ini. Ada kesenjangan digital antara mereka yang berada di wilayah dengan internet yang baik dengan mereka yang berada di wilayah yang tidak berinternet.  Di sisi lain kesenjangan juga terjadi dalam kepemilikan ...