Langsung ke konten utama

Sambut Pilkada dengan Ibadah (1)

LOKAK, DUNIO GALO, ADO DI KITO

Sepertinya celotehan terkait Pilkada seirama dengan durasi waktu yang ditetapkan oleh KPU dan lagi-lagi pertanyaan serupa berseliweran.

Beda sedikit dengan 5 tahun silam, kali ini cuaca politik di bumi Caram Seguguk cukup sejuk karena sampai detik akhir pendaftaran, KPU hanya mencatat satu calon pasangan.

Besar harapan dengan calon tunggal ini semakin meminimalisir residu-residu politik. 

Terkadang kasihan melihat segelintir awam yang menjadi korban walaupun itu kesalahannya sendiri.

Lanjut kembali pada pertanyaan yang berseleweran tadi, hahaha.
Makmano, ado lokak dak..... Pilkada lah parak?

Simple namun pertanyaan ini syarat makna dan mudah-mudahan bukan sebagai visualisasi tradisi kearifan lokal.

Yuk kita bedah sedikit narasi pertanyaan di atas.

Drs. Saudi Berlian, M.Si. salah seorang pemerhati budaya Sumsel, awalnya kata “lokak” berasal dari kata “Loka” yang berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti peluang.

Dari kacamata sosiologi bahasa, bila kata ini lebih sering diungkapkan oleh orang yang berpunya atau paling tidak mempunyai informasi dengan ungkapan “Nak lokak dak?”, maka bermakna kepedulian terhadap orang yang membutuhkan. 

Pada saat yang sama hal itu mengungkapkan adanya solidaritas sosial yang muncul dalam kebiasaan masyarakat yang masih solid dan berpegang teguh pada nilai-nilai budayanya. Budaya saling tolong, misalnyal. 

Sebaliknya, bila sering terucap dari orang yang membutuhkan dengan ungkapan “Ado lokak dak?”, maka itu mengacu pada makna keterpecahan sosial. Masyarakat penggunanya berarti telah tidak solid lagi sebab mereka terjebak pada kecenderungan individualisme dan materialistisme atau masyarakat “matre”. 

Pada ranah ini yang menjadi standar acuan tindakan dalam kehidupan bermasyarakat adalah “kepentinganku” atau “aku dapat apa?”. 

Jika merujuk pendapat Saudi Berlian, maka kita perlu berhati-hati, jangan sampai kearifan lokal Ogan Ilir tergerus oleh kepentingan-kepentingan pribadi dan menularkan sikap materalistik pada masyarakat luas.

Kata "ado lokak dak" biasanya tersanding dengan "Dunio galo"."

Hhmm......

Ungkapan sederhana bahkan familier dalam candaan namun kalau kita melihat menggunakan kacamata tauhid, ini dapat menjadi bencana besar karena bisa-bisa tergolong pada sekularisme.

Sekularisme bisa diartikan suatu upaya pemisahan agama (tuhan) dari urusan kehidupan dunia.

Dalam praktiknya, sekularisme akan selalu mendorong manusia untuk melakukan kegiatan melampaui batas yang telah ditetapkan agama melalui firman dan para nabinya.

Sikap ini kita lihat melalui ungkapan "Dunio galo, pacak diatur galo, ado di kito"

Secara substantif, ungkapan ini telah mengenyampingkan peranan atau kuasa sang pencipta dalam tatanan kehidupan. 

Memposisikan manusia sebagai pelaku utama (ado di kito) dan penentu bisa menjadi bertolak belakang dengan Al-Quran yang telah menerangkan bahwa tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan atas kehendakNya (Al-AnĂ¡m 59).

Manusia disunnahkan untuk berusaha semaksimal mungkin melalui cara-cara yang halal dan baik, namun penentu akhir hanyalah ada pada sang Pencipta.

Jangankan segelintir, seluruh penghuni semesta berekayasa maka hanya rekayasa/rencana tuhanlah yang berlaku.

____________
Suatu kebiasaan akan menjadi sebuah budaya yang akan diwariskan pada generasi berikutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Togel dari Kacamata Probabilitas

Sudah tak asing lagi telinga ini mendengar percakapan orang-orang di sekaliling membahas judi angka (Togel), lama-lama aku jadi penasaran dan akhirnya memberanikan diri tuk bertanya cara atau aturan main serta berapa hadiah yang didapatkan. Tanpa ragu bahkan semangat 45 (heheh kin terlalu lebay kosakatanya) teman tadi panjang lebar menjelaskan. "Kita tinggal memasang 2, 3, atau 4 angka, jadi misalnyo keluar 2 angko, kito dapat hadiah duit Rp. 60.000,- dipotong pajak" masih juga belum jelas, akupun bertanya lagi, "pernah dak yang keluar tu angko dobel", lalu dijawabnya "biso bae, malah kadang angko minggu kemaren biso keluar lagi". Alhamdlh setelah mendengar jawaban tadi aku mulai sedikit banyak dapat data (deret angka 0 - 9, dicari kemungkinan muncul pasangan 2, 3 dan 4 angka dan boleh berulang. 2 angko dapat 60.000). Selama perjalan pulang, aku teringat dengan pelajaran waktu SMA dulu tentang bab peluang walau saat itu saya termasuk...

Pembelajaran Berbasis Teknologi: Konsep Dasar #1

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa transformasi besar dalam dunia pendidikan. Proses pembelajaran yang sebelumnya bersifat tradisional kini beralih menuju model pembelajaran berbasis teknologi. Artikel ini membahas konsep dasar pembelajaran berbasis teknologi, meliputi pengertian, landasan teoretis, karakteristik, bentuk implementasi, kelebihan, serta tantangan yang dihadapi. Dengan pemahaman yang komprehensif, diharapkan pendidik dan peserta didik mampu mengoptimalkan peran teknologi sebagai sarana pembelajaran di era digital. Revolusi Industri 4.0 dan perkembangan teknologi digital telah mengubah paradigma pendidikan secara signifikan. Pembelajaran yang dulunya hanya berpusat pada ruang kelas kini dapat dilakukan secara daring dengan dukungan perangkat digital. Menurut UNESCO (2013), pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak hanya meningkatkan efisiensi pembelajaran, tetapi juga mendukung tercapainya keterampilan abad 21, yakni berpikir kritis, kre...

Gen Z dan Alpha (Tantangan Guru Masa Depan)

Veteran Generation 1925 – 1946  Baby Boom Generation 1946 – 1960  X Generation 1960 – 1980  Y Generation 1980 – 1995  Z Generation 1995 – 2010 Alfa Generation 2010 +  Bencsik dan Machova (2016):  Suhartono (2021: 38), generasi Z adalah generasi yang lahir dari tahun 1995-2010, sedangkan generasi alpha adalah mereka yang lahir setelah tahun 2010.  Generasi Z adalah generasi dengan mobilitas digital yang cukup tinggi. Saat ini mereka hampir seluruhnya bergantung pada perangkat seluler. Bahkan, untuk pengerjaan tugas-tugas di sekolah, mereka cenderung memilih perangkat mobile (Fiandra, 2020: 56).  Baru sebagian pelajar Indonesia yang mendapatkan akses internet dan komputer sehingga definisi ini tak sepenuhnya relevan dengan kondisi bangsa ini. Ada kesenjangan digital antara mereka yang berada di wilayah dengan internet yang baik dengan mereka yang berada di wilayah yang tidak berinternet.  Di sisi lain kesenjangan juga terjadi dalam kepemilikan ...