Langsung ke konten utama

Semua Berawal dari Sebuah Titik

Mushaf Nusantara 19 Ramadhan 1446 H

Filosofi sebuah titik bisa dipandang dari berbagai perspektif yang mendalam. Dalam banyak tradisi pemikiran, titik sering dianggap sebagai simbol dasar yang melambangkan awal dari segala sesuatu.

Awal dari Segala Sesuatu.
Sebuah titik bisa dianggap sebagai titik awal dalam suatu ruang atau perjalanan. Dalam banyak konteks matematis atau geometris, sebuah titik adalah entitas yang tak terbagi lebih lanjut dan menjadi dasar bagi segala bentuk atau objek yang lebih kompleks. Dalam kehidupan, ini bisa diartikan sebagai langkah pertama dalam perubahan atau pencapaian.

Termasuk langkah pertama menuju hubungan yang serius yang sayangnya bagi sebagian orang, titik ini masih sebatas typing… lalu menghapus pesan 😌

Keberadaan yang Tak Terbatas.
Meskipun sebuah titik secara fisik mungkin tampak tak berarti (hanya sebuah lokasi tanpa dimensi), dari perspektif filosofis, ia melambangkan potensi tanpa batas. Ia adalah sesuatu yang tampak “hampa,” namun mengandung kemungkinan yang tak terhingga.

Mirip status jomblo: kelihatannya kosong, tapi sebenarnya penuh potensi asal bukan potensinya cuma buat jadi pendengar curhat orang lain.

Kehidupan yang Terpadu dan Terus Bergerak.
Dalam beberapa pandangan, titik melambangkan momen saat ini. Seperti titik pada garis, hidup adalah rangkaian momen yang terus bergerak maju.

Sayangnya, bagi jomblo garis hidupnya kadang terasa seperti garis putus-putus: nyambung sebentar, lalu hilang tanpa penjelasan.

Kesederhanaan yang Mendalam.
Sebuah titik mengajarkan bahwa sesuatu yang kecil dan sederhana bisa menyimpan makna besar.
Seperti pesan singkat “udah makan?” yang bagi orang tertentu terasa biasa saja, tapi bagi jomblo bisa jadi bahan senyum seharian dan dikenang sampai malam.

Perspektif Tak Terbatas.
Dalam filsafat Timur, seperti ajaran Zen, dikenal konsep kekosongan atau Mu keadaan hampa yang justru membuka ruang bagi segala kemungkinan.

Sebuah pelajaran berharga bagi para jomblo: kosong bukan berarti gagal, bisa jadi sedang diberi ruang oleh semesta… meski kadang ruangnya kebesaran dan terasa berisik oleh pertanyaan, “kapan nyusul?”

Secara keseluruhan, filosofi tentang titik mengajarkan kita tentang awal, potensi, kesederhanaan, dan perjalanan hidup. Termasuk perjalanan hati yang bagi sebagian orang sudah sampai tujuan, dan bagi sebagian lainnya masih setia berdiri di titik awal sambil bilang, “nggak apa-apa kok sendiri.”

Terlepas dari itu semua, semoga deretan titik yang menciptakan goresan-goresan kehidupan kita semua, melukiskan keindahan dan keberkahan.

Dan bagi yang masih jomblo, semoga titiknya segera bertemu dengan titik lain… lalu berubah jadi garis yang jelas arahnya.

Amin ya Rabb… 🙏



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Togel dari Kacamata Probabilitas

Sudah tak asing lagi telinga ini mendengar percakapan orang-orang di sekaliling membahas judi angka (Togel), lama-lama aku jadi penasaran dan akhirnya memberanikan diri tuk bertanya cara atau aturan main serta berapa hadiah yang didapatkan. Tanpa ragu bahkan semangat 45 (heheh kin terlalu lebay kosakatanya) teman tadi panjang lebar menjelaskan. "Kita tinggal memasang 2, 3, atau 4 angka, jadi misalnyo keluar 2 angko, kito dapat hadiah duit Rp. 60.000,- dipotong pajak" masih juga belum jelas, akupun bertanya lagi, "pernah dak yang keluar tu angko dobel", lalu dijawabnya "biso bae, malah kadang angko minggu kemaren biso keluar lagi". Alhamdlh setelah mendengar jawaban tadi aku mulai sedikit banyak dapat data (deret angka 0 - 9, dicari kemungkinan muncul pasangan 2, 3 dan 4 angka dan boleh berulang. 2 angko dapat 60.000). Selama perjalan pulang, aku teringat dengan pelajaran waktu SMA dulu tentang bab peluang walau saat itu saya termasuk...

Pembelajaran Berbasis Teknologi: Konsep Dasar #1

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa transformasi besar dalam dunia pendidikan. Proses pembelajaran yang sebelumnya bersifat tradisional kini beralih menuju model pembelajaran berbasis teknologi. Artikel ini membahas konsep dasar pembelajaran berbasis teknologi, meliputi pengertian, landasan teoretis, karakteristik, bentuk implementasi, kelebihan, serta tantangan yang dihadapi. Dengan pemahaman yang komprehensif, diharapkan pendidik dan peserta didik mampu mengoptimalkan peran teknologi sebagai sarana pembelajaran di era digital. Revolusi Industri 4.0 dan perkembangan teknologi digital telah mengubah paradigma pendidikan secara signifikan. Pembelajaran yang dulunya hanya berpusat pada ruang kelas kini dapat dilakukan secara daring dengan dukungan perangkat digital. Menurut UNESCO (2013), pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak hanya meningkatkan efisiensi pembelajaran, tetapi juga mendukung tercapainya keterampilan abad 21, yakni berpikir kritis, kre...

Gen Z dan Alpha (Tantangan Guru Masa Depan)

Veteran Generation 1925 – 1946  Baby Boom Generation 1946 – 1960  X Generation 1960 – 1980  Y Generation 1980 – 1995  Z Generation 1995 – 2010 Alfa Generation 2010 +  Bencsik dan Machova (2016):  Suhartono (2021: 38), generasi Z adalah generasi yang lahir dari tahun 1995-2010, sedangkan generasi alpha adalah mereka yang lahir setelah tahun 2010.  Generasi Z adalah generasi dengan mobilitas digital yang cukup tinggi. Saat ini mereka hampir seluruhnya bergantung pada perangkat seluler. Bahkan, untuk pengerjaan tugas-tugas di sekolah, mereka cenderung memilih perangkat mobile (Fiandra, 2020: 56).  Baru sebagian pelajar Indonesia yang mendapatkan akses internet dan komputer sehingga definisi ini tak sepenuhnya relevan dengan kondisi bangsa ini. Ada kesenjangan digital antara mereka yang berada di wilayah dengan internet yang baik dengan mereka yang berada di wilayah yang tidak berinternet.  Di sisi lain kesenjangan juga terjadi dalam kepemilikan ...