Langsung ke konten utama

Sampaikan Dengan Lemah Lembut


Dalam kitab Tarikh Ibnu Katsir karya Isma’il bin Umar bin Katsir al-Dimasqi (Ibnu Katsir), terdapat sebuah kisah yang berkaitan dengan Harun Ar-Rasyid.


Harun Ar-Rasyid merupakan khalifah yang memimpin Dinasti Abbasiyah pada masa kejayaan peradaban Islam, ditandai dengan kemajuan pesat di bidang ilmu pengetahuan, seni, ekonomi, serta pembangunan infrastruktur seperti pendirian Baitul Hikmah. Selain itu, beliau juga menjamin keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan rakyatnya.


Diriwayatkan bahwa seorang ustadz datang kepada khalifah dan berkata,
(يَا أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ، إِنِّي نَاصِحٌ لَكَ فَْمُفَسِدٌ عَلَيْكَ، فَلَا تَجِدْنَّ عَلَيَّ فِي نَفْسِكَ شَيْئًا)
(Ya amīrul-mu’minīn, innī nāṣiḥun laka fa mufāṣidun ‘alayka, fa lā tajidannā ‘alayya fī nafsika shay’an.)


“Wahai amirul mukminin, saya adalah orang yang baik hati yang bermaksud memberikan nasihat dengan cara yang mungkin terkesan kasar. Oleh karena itu, mohon jangan tersinggung atau memasukkan kata-kata saya ke dalam hati.”


Mendengar hal tersebut, khalifah menjawab,

(أَسْكُتْ يَا أُسْتَاذُ، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى بَعَثَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ إِلَى مَنْ هُوَ سَرٌّ مِنِّي، وَمَعَ ذَلِكَ قَوْلَ تَعَالَى: فَكُوْ لِلَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى)
(Usqut yā ustāḍ, innallāha ta’ālā ba’atsa man huwa khayrun minka ilā man huwa sarrun minnī, wa ma’a dhālik qaula ta’ālā: fa kū la lahu qaulan layyinan la ‘alahu yatadhakkaru aw yakhshā.)


"Diamlah, wahai ustadz. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengutus seorang yang lebih mulia darimu kepada seseorang yang lebih hina dariku. Namun, Allah memerintahkan orang yang lebih mulia itu untuk berbicara dengan tutur kata yang lemah lembut agar orang yang lebih hina tersebut dapat mengingat dan bertakwa.”


Dalam konteks ini, Harun Ar-Rasyid merujuk kepada Nabi Musa AS sebagai orang yang lebih mulia, dan Fir’aun sebagai orang yang hina. Bahkan dalam menghadapi Fir’aun, Nabi Musa diperintahkan Allah untuk tetap beretika dan menggunakan tutur kata yang lembut, dengan harapan agar Fir’aun dapat tersadar dan takut kepada-Nya.


Kisah ini hendaknya menjadi pedoman bagi kita semua dalam menyampaikan kritik, saran, dan aspirasi.


Kita diperbolehkan mengkritik kebijakan pemimpin apabila tidak sejalan dengan pendapat kita, namun harus sesuai dengan ajaran Al-Qur’an yang menyatakan,
(فَقُولُوا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا)
(Fa qulu lahu qaulan layyinan)
maka ucapkanlah kepadanya dengan perkataan yang lembut.


Oleh karena itu, hendaknya kita menghindari penyampaian yang mengandung kata-kata kasar, caci maki atau hinaan apalagi sampai merusak fasilitas umum dan pencurian.


Semoga Allah menjauhkan kita dari sikap demikian. Amiinn.


_________________
Tulisan ini khusus dipersembahkan kepada para pendemo 1 Sept 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Togel dari Kacamata Probabilitas

Sudah tak asing lagi telinga ini mendengar percakapan orang-orang di sekaliling membahas judi angka (Togel), lama-lama aku jadi penasaran dan akhirnya memberanikan diri tuk bertanya cara atau aturan main serta berapa hadiah yang didapatkan. Tanpa ragu bahkan semangat 45 (heheh kin terlalu lebay kosakatanya) teman tadi panjang lebar menjelaskan. "Kita tinggal memasang 2, 3, atau 4 angka, jadi misalnyo keluar 2 angko, kito dapat hadiah duit Rp. 60.000,- dipotong pajak" masih juga belum jelas, akupun bertanya lagi, "pernah dak yang keluar tu angko dobel", lalu dijawabnya "biso bae, malah kadang angko minggu kemaren biso keluar lagi". Alhamdlh setelah mendengar jawaban tadi aku mulai sedikit banyak dapat data (deret angka 0 - 9, dicari kemungkinan muncul pasangan 2, 3 dan 4 angka dan boleh berulang. 2 angko dapat 60.000). Selama perjalan pulang, aku teringat dengan pelajaran waktu SMA dulu tentang bab peluang walau saat itu saya termasuk...

Pembelajaran Berbasis Teknologi: Konsep Dasar #1

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa transformasi besar dalam dunia pendidikan. Proses pembelajaran yang sebelumnya bersifat tradisional kini beralih menuju model pembelajaran berbasis teknologi. Artikel ini membahas konsep dasar pembelajaran berbasis teknologi, meliputi pengertian, landasan teoretis, karakteristik, bentuk implementasi, kelebihan, serta tantangan yang dihadapi. Dengan pemahaman yang komprehensif, diharapkan pendidik dan peserta didik mampu mengoptimalkan peran teknologi sebagai sarana pembelajaran di era digital. Revolusi Industri 4.0 dan perkembangan teknologi digital telah mengubah paradigma pendidikan secara signifikan. Pembelajaran yang dulunya hanya berpusat pada ruang kelas kini dapat dilakukan secara daring dengan dukungan perangkat digital. Menurut UNESCO (2013), pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak hanya meningkatkan efisiensi pembelajaran, tetapi juga mendukung tercapainya keterampilan abad 21, yakni berpikir kritis, kre...

Gen Z dan Alpha (Tantangan Guru Masa Depan)

Veteran Generation 1925 – 1946  Baby Boom Generation 1946 – 1960  X Generation 1960 – 1980  Y Generation 1980 – 1995  Z Generation 1995 – 2010 Alfa Generation 2010 +  Bencsik dan Machova (2016):  Suhartono (2021: 38), generasi Z adalah generasi yang lahir dari tahun 1995-2010, sedangkan generasi alpha adalah mereka yang lahir setelah tahun 2010.  Generasi Z adalah generasi dengan mobilitas digital yang cukup tinggi. Saat ini mereka hampir seluruhnya bergantung pada perangkat seluler. Bahkan, untuk pengerjaan tugas-tugas di sekolah, mereka cenderung memilih perangkat mobile (Fiandra, 2020: 56).  Baru sebagian pelajar Indonesia yang mendapatkan akses internet dan komputer sehingga definisi ini tak sepenuhnya relevan dengan kondisi bangsa ini. Ada kesenjangan digital antara mereka yang berada di wilayah dengan internet yang baik dengan mereka yang berada di wilayah yang tidak berinternet.  Di sisi lain kesenjangan juga terjadi dalam kepemilikan ...