Langsung ke konten utama

Usaha Tidak Hianati Hasil (Salah)

Akhir-akhir ini sering mendengar kalimat yang dielu-elukan di seminar, konten motivasi, status media sosial sampai panggung-panggung pengembangan diri: “usaha tidak mengkhianati hasil.” Kedengarannya begitu heroik, membakar semangat dan membuat orang merasa memegang kendali penuh atas masa depannya.

Tapi sepertinya ada yang ganjil.

Kalimat itu terdengar seperti motivasi, padahal diam-diam bisa berubah menjadi ideologi. Ia bukan cuma mendorong kerja keras, tetapi membisikkan bahwa manusialah penentu akhir. Bahwa selama rumus usaha dipenuhi, hasil wajib mengikuti.

Di dunia motivator, narasinya rapi sekali. Orang sukses berdiri di panggung, menceritakan perjuangannya dari nol, lalu menarik kesimpulan: lihat, kerja keras saya membuahkan hasil. Cerita seperti ini laku keras. Dijual sebagai resep hidup sukses. Diulang sebagai mantra dan sedihnya lagi banyak para tokoh agama ikut terjebak.

Masalahnya jarang sekali dibahas orang-orang yang sudah melakukan hal serupa tapi tidak sampai ke panggung itu. Padahal mereka ada dan banyak.

Ada yang disiplin, gigih, bangun sebelum subuh, pulang larut malam, mengikuti semua teori sukses tapi hidupnya biasa saja. Tidak viral/terkenal. Tidak kaya raya. Tidak dianggap inspiratif.

Kalau usaha otomatis menjamin hasil, mereka harusnya berada di posisi yang sama, namun kenyataannya tidak.

Di titik ini, budaya motivasi modern sering melakukan penyederhanaan berbahaya. Peran Tuhan makin tipis (sekulerisme). Takdir makin tidak populer. Doa dianggap pelengkap, bukan penentu. Bahkan kadang dibungkus dengan bahasa yang lebih halus: Tuhan akan mengikuti prasangkamu. Seolah-olah kehendak langit menunggu keputusan manusia.

Pelan-pelan, yang lahir adalah generasi yang percaya diri bekerja, tapi kehilangan rasa bergantung kepada Allah.

Nama Tuhan mungkin tetap disebut, tapi lebih sebagai simbol etika daripada sumber keputusan.

Padahal iman mengajarkan posisi yang jauh lebih jujur. Kita wajib berusaha, iya. Malas bukan pilihan. Menyerah sebelum mencoba bukan ajaran agama. Tapi setelah semua itu, kita tetap berdiri sebagai hamba, bukan pemilik hasil.

Nabi Muhammad SAW memberi contoh yang sederhana dan membumi: ikat dulu untamu, lalu bertawakal. Bukan karena ikatan itu pasti menjamin, tapi karena itu bagian tugasmu. Setelah itu, jangan sombong. Jangan merasa berhasil karena dirimu.

Budaya motivator sering berhenti di kalimat pertama: ikat untamu.
Jarang yang mau membicarakan bagian keduanya: bertawakal.

Karena tawakal tidak selalu menjual. Ia tidak selalu memberi kepastian. Ia mengandung kemungkinan bahwa hasil bisa berbeda dari keinginan kita. Dan itu sulit diterima oleh pasar yang ingin semuanya pasti.

Akibatnya fatal, ketika berhasil, orang mudah merasa itu buah tangannya sendiri. Ketika gagal, ia merasa sistem rusak atau Tuhan tidak adil. Hatinya tidak siap menerima bahwa mungkin Allah punya rencana lain.

Di sinilah penting menjaga kalimat yang lebih rendah hati: hasil tidak mengkhianati usaha. Artinya, tidak ada kebaikan yang sia-sia di sisi Allah. Mungkin bentuknya berbeda. Mungkin waktunya lain. Tapi bukan berarti kita bisa mendikte bagaimana harus terjadi.

Usaha adalah kewajiban.
Hasil adalah wilayah Allah.

Semakin keras dunia berteriak bahwa kita bisa mengontrol segalanya, mungkin semakin penting bagi kita untuk mengingat: kita ini tetaplah seorang hamba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Togel dari Kacamata Probabilitas

Sudah tak asing lagi telinga ini mendengar percakapan orang-orang di sekaliling membahas judi angka (Togel), lama-lama aku jadi penasaran dan akhirnya memberanikan diri tuk bertanya cara atau aturan main serta berapa hadiah yang didapatkan. Tanpa ragu bahkan semangat 45 (heheh kin terlalu lebay kosakatanya) teman tadi panjang lebar menjelaskan. "Kita tinggal memasang 2, 3, atau 4 angka, jadi misalnyo keluar 2 angko, kito dapat hadiah duit Rp. 60.000,- dipotong pajak" masih juga belum jelas, akupun bertanya lagi, "pernah dak yang keluar tu angko dobel", lalu dijawabnya "biso bae, malah kadang angko minggu kemaren biso keluar lagi". Alhamdlh setelah mendengar jawaban tadi aku mulai sedikit banyak dapat data (deret angka 0 - 9, dicari kemungkinan muncul pasangan 2, 3 dan 4 angka dan boleh berulang. 2 angko dapat 60.000). Selama perjalan pulang, aku teringat dengan pelajaran waktu SMA dulu tentang bab peluang walau saat itu saya termasuk...

Pembelajaran Berbasis Teknologi: Konsep Dasar #1

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa transformasi besar dalam dunia pendidikan. Proses pembelajaran yang sebelumnya bersifat tradisional kini beralih menuju model pembelajaran berbasis teknologi. Artikel ini membahas konsep dasar pembelajaran berbasis teknologi, meliputi pengertian, landasan teoretis, karakteristik, bentuk implementasi, kelebihan, serta tantangan yang dihadapi. Dengan pemahaman yang komprehensif, diharapkan pendidik dan peserta didik mampu mengoptimalkan peran teknologi sebagai sarana pembelajaran di era digital. Revolusi Industri 4.0 dan perkembangan teknologi digital telah mengubah paradigma pendidikan secara signifikan. Pembelajaran yang dulunya hanya berpusat pada ruang kelas kini dapat dilakukan secara daring dengan dukungan perangkat digital. Menurut UNESCO (2013), pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak hanya meningkatkan efisiensi pembelajaran, tetapi juga mendukung tercapainya keterampilan abad 21, yakni berpikir kritis, kre...

Gen Z dan Alpha (Tantangan Guru Masa Depan)

Veteran Generation 1925 – 1946  Baby Boom Generation 1946 – 1960  X Generation 1960 – 1980  Y Generation 1980 – 1995  Z Generation 1995 – 2010 Alfa Generation 2010 +  Bencsik dan Machova (2016):  Suhartono (2021: 38), generasi Z adalah generasi yang lahir dari tahun 1995-2010, sedangkan generasi alpha adalah mereka yang lahir setelah tahun 2010.  Generasi Z adalah generasi dengan mobilitas digital yang cukup tinggi. Saat ini mereka hampir seluruhnya bergantung pada perangkat seluler. Bahkan, untuk pengerjaan tugas-tugas di sekolah, mereka cenderung memilih perangkat mobile (Fiandra, 2020: 56).  Baru sebagian pelajar Indonesia yang mendapatkan akses internet dan komputer sehingga definisi ini tak sepenuhnya relevan dengan kondisi bangsa ini. Ada kesenjangan digital antara mereka yang berada di wilayah dengan internet yang baik dengan mereka yang berada di wilayah yang tidak berinternet.  Di sisi lain kesenjangan juga terjadi dalam kepemilikan ...