Tapi sepertinya ada yang ganjil.
Kalimat itu terdengar seperti motivasi, padahal diam-diam
bisa berubah menjadi ideologi. Ia bukan cuma mendorong kerja keras, tetapi
membisikkan bahwa manusialah penentu akhir. Bahwa selama rumus usaha dipenuhi,
hasil wajib mengikuti.
Di dunia motivator, narasinya rapi sekali. Orang sukses
berdiri di panggung, menceritakan perjuangannya dari nol, lalu menarik
kesimpulan: lihat, kerja keras saya membuahkan hasil. Cerita seperti ini laku
keras. Dijual sebagai resep hidup sukses. Diulang sebagai mantra dan sedihnya
lagi banyak para tokoh agama ikut terjebak.
Masalahnya jarang sekali dibahas orang-orang yang sudah
melakukan hal serupa tapi tidak sampai ke panggung itu. Padahal mereka ada dan
banyak.
Ada yang disiplin, gigih, bangun sebelum subuh, pulang larut
malam, mengikuti semua teori sukses tapi hidupnya biasa saja. Tidak viral/terkenal.
Tidak kaya raya. Tidak dianggap inspiratif.
Kalau usaha otomatis menjamin hasil, mereka harusnya berada
di posisi yang sama, namun kenyataannya tidak.
Di titik ini, budaya motivasi modern sering melakukan
penyederhanaan berbahaya. Peran Tuhan makin tipis (sekulerisme). Takdir makin
tidak populer. Doa dianggap pelengkap, bukan penentu. Bahkan kadang dibungkus
dengan bahasa yang lebih halus: Tuhan akan mengikuti prasangkamu. Seolah-olah
kehendak langit menunggu keputusan manusia.
Pelan-pelan, yang lahir adalah generasi yang percaya diri
bekerja, tapi kehilangan rasa bergantung kepada Allah.
Nama Tuhan mungkin tetap disebut, tapi lebih sebagai simbol
etika daripada sumber keputusan.
Padahal iman mengajarkan posisi yang jauh lebih jujur. Kita
wajib berusaha, iya. Malas bukan pilihan. Menyerah sebelum mencoba bukan ajaran
agama. Tapi setelah semua itu, kita tetap berdiri sebagai hamba, bukan pemilik
hasil.
Nabi Muhammad SAW memberi contoh yang sederhana dan membumi:
ikat dulu untamu, lalu bertawakal. Bukan karena ikatan itu pasti menjamin, tapi
karena itu bagian tugasmu. Setelah itu, jangan sombong. Jangan merasa berhasil
karena dirimu.
Budaya motivator sering berhenti di kalimat pertama: ikat
untamu.
Jarang yang mau membicarakan bagian keduanya: bertawakal.
Karena tawakal tidak selalu menjual. Ia tidak selalu memberi
kepastian. Ia mengandung kemungkinan bahwa hasil bisa berbeda dari keinginan
kita. Dan itu sulit diterima oleh pasar yang ingin semuanya pasti.
Akibatnya fatal, ketika berhasil, orang mudah merasa itu buah
tangannya sendiri. Ketika gagal, ia merasa sistem rusak atau Tuhan tidak adil.
Hatinya tidak siap menerima bahwa mungkin Allah punya rencana lain.
Di sinilah penting menjaga kalimat yang lebih rendah hati: hasil
tidak mengkhianati usaha. Artinya, tidak ada kebaikan yang sia-sia di sisi
Allah. Mungkin bentuknya berbeda. Mungkin waktunya lain. Tapi bukan berarti
kita bisa mendikte bagaimana harus terjadi.
Usaha adalah kewajiban.
Hasil adalah wilayah Allah.
Semakin keras dunia berteriak bahwa kita bisa mengontrol
segalanya, mungkin semakin penting bagi kita untuk mengingat: kita ini tetaplah
seorang hamba.
Komentar
Posting Komentar