Gema Al-Quran yang melantun dari mimbar ke mimbar sering kali kita pandang sebagai sebuah kompetisi. Kita melihatnya sebagai panggung perebutan juara, tempat piala-piala berkilau diserahkan dan gemuruh tepuk tangan membahana. Namun, jika kita melihat lebih dalam, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) jauh lebih besar dari sekadar urusan menang dan kalah.
MTQ adalah sebuah gerakan besar untuk inventarisasi generasi.
Melalui forum mulia ini, kita sedang mendata, menyaring, dan mengumpulkan aset-aset terbaik yang dimiliki oleh umat dan bangsa. Setiap lantunan ayat yang fasih, setiap hafalan yang kokoh dan setiap goresan kaligrafi yang indah adalah bukti bahwa bumi kita tidak pernah kehabisan penjaga wahyu. Mereka adalah aset masa depan yang sedang kita rekam jejaknya.
Satu hal yang harus kita sadari bersama: peserta hari ini adalah dewan hakim, panitera, panitia, pelatih dan official di masa depan.
Anak-anak dan remaja yang tampil adalah sosok yang kelak memegang kendali penuh atas syiar ini. Di masa depan, merekalah yang akan duduk di kursi penilaian sebagai dewan hakim,panitera, panitia, pelatih dan pembimbing kafilah sebagai official. Mereka sedang belajar, berproses, dan merekam dengan sangat jelas seluruh ekosistem yang mereka lihat hari ini.
Oleh karena itu, atmosfer keadilan dalam MTQ wajib dijaga secara mutlak. Jika hari ini kita menyuguhkan ketidaksportivitasan, ketidakadilan, kecurangan atau tebar kebencian, maka ini akan menjadi blunder besar di masa akan datang.
Kita harus berhati-hati. Dalam 20 atau 30 tahun mendatang, generasi muda ini akan menduduki posisi kita saat ini. Mereka akan memainkan, mempraktikkan, dan mengulang persis apa yang kita suguhkan kepada mereka hari ini. Naifnya lagi, jika hari ini kita mencontohkan kelicikan, lalu di masa depan mereka memainkan sistem yang sama, maka tindakan kita hari ini akan menjelma menjadi dosa jariyah.
Dosa yang terus mengalir, beranak pinak dan mengotori kesucian syiar Al-Quran. Sementara di saat itu terjadi, siapa yang tahu? mungkin kita sudah terbujur kaku menanggung aliran dosa yang gagal kita bendung saat masih memiliki kuasa. Kita tidak boleh menodai masa depan mereka dan akhirat kita sendiri demi ego kelompok atau kemenangan semu yang sesaat.
Melalui forum mulia ini, kita sedang mendata, menyaring, dan mengumpulkan aset-aset terbaik yang dimiliki oleh umat dan bangsa. Setiap lantunan ayat yang fasih, setiap hafalan yang kokoh dan setiap goresan kaligrafi yang indah adalah bukti bahwa bumi kita tidak pernah kehabisan penjaga wahyu. Mereka adalah aset masa depan yang sedang kita rekam jejaknya.
Satu hal yang harus kita sadari bersama: peserta hari ini adalah dewan hakim, panitera, panitia, pelatih dan official di masa depan.
Anak-anak dan remaja yang tampil adalah sosok yang kelak memegang kendali penuh atas syiar ini. Di masa depan, merekalah yang akan duduk di kursi penilaian sebagai dewan hakim,panitera, panitia, pelatih dan pembimbing kafilah sebagai official. Mereka sedang belajar, berproses, dan merekam dengan sangat jelas seluruh ekosistem yang mereka lihat hari ini.
Oleh karena itu, atmosfer keadilan dalam MTQ wajib dijaga secara mutlak. Jika hari ini kita menyuguhkan ketidaksportivitasan, ketidakadilan, kecurangan atau tebar kebencian, maka ini akan menjadi blunder besar di masa akan datang.
Kita harus berhati-hati. Dalam 20 atau 30 tahun mendatang, generasi muda ini akan menduduki posisi kita saat ini. Mereka akan memainkan, mempraktikkan, dan mengulang persis apa yang kita suguhkan kepada mereka hari ini. Naifnya lagi, jika hari ini kita mencontohkan kelicikan, lalu di masa depan mereka memainkan sistem yang sama, maka tindakan kita hari ini akan menjelma menjadi dosa jariyah.
Dosa yang terus mengalir, beranak pinak dan mengotori kesucian syiar Al-Quran. Sementara di saat itu terjadi, siapa yang tahu? mungkin kita sudah terbujur kaku menanggung aliran dosa yang gagal kita bendung saat masih memiliki kuasa. Kita tidak boleh menodai masa depan mereka dan akhirat kita sendiri demi ego kelompok atau kemenangan semu yang sesaat.
Oleh karenanya, mari kita jaga diri kita bersama. Jaga bicara, jaga sikap dan murnikan niat.
Mari tunjukkan kepada generasi muda ini bahwa inilah perlombaan versi Islam yang sesungguhnya. Sebuah perlombaan yang tidak menghalalkan segala cara, perlombaan yang menjunjung tinggi kejujuran di atas piala, perlombaan yang mengedepankan ketakwaan sebagai tolok ukur utama. Kita bertanggung jawab moral untuk menyuguhkan panggung yang bersih, jujur dan penuh integritas untuk mereka.
Piala bisa berdebu, piagam bisa menguning, uang hadiah akan habis dan status juara akan berganti seiring waktu. Namun… nilai kejujuran yang kita wariskan hari ini akan menjadi amal jariyah yang menyelamatkan di dunia dan akhirat kita nanti.
Mari kita jaga kesucian MTQ dengan segenap martabat. Ini adalah momentum krusial untuk memastikan estafet kepemimpinan Qurani yang bersih terus bersambung, demi masa depan generasi yang mulia dan ridha Allah yang utama.
Semoga Allah swt mempertemukan kita kembali di MTQ-MTQ selanjutnya. Amin
Mari tunjukkan kepada generasi muda ini bahwa inilah perlombaan versi Islam yang sesungguhnya. Sebuah perlombaan yang tidak menghalalkan segala cara, perlombaan yang menjunjung tinggi kejujuran di atas piala, perlombaan yang mengedepankan ketakwaan sebagai tolok ukur utama. Kita bertanggung jawab moral untuk menyuguhkan panggung yang bersih, jujur dan penuh integritas untuk mereka.
Piala bisa berdebu, piagam bisa menguning, uang hadiah akan habis dan status juara akan berganti seiring waktu. Namun… nilai kejujuran yang kita wariskan hari ini akan menjadi amal jariyah yang menyelamatkan di dunia dan akhirat kita nanti.
Mari kita jaga kesucian MTQ dengan segenap martabat. Ini adalah momentum krusial untuk memastikan estafet kepemimpinan Qurani yang bersih terus bersambung, demi masa depan generasi yang mulia dan ridha Allah yang utama.
Semoga Allah swt mempertemukan kita kembali di MTQ-MTQ selanjutnya. Amin

Komentar
Posting Komentar