Langsung ke konten utama

Postingan

Mengenang Mu

Masih ada bayang mu di sudut-sudut rumah yang kau pahat Di wajah mungil putra kami Yang begitu mirip dirimu Di relung hati terdalam kami Ketika mendengar canda tawa mu Bapak... Walau baru 12 tahun aku mengenal mu, tapi rasanya begitu sedih saat harus berpisah dengan mu Terima kasih untuk cinta yang kau curahkan Untuk tetes keringat yang kau cucurkan Untuk perhatian dan canda yang kau ruahkan Maafkan kami, anak-anak mu yang belum maksimal membalas semua kebaikan mu... Allahumma firlaghu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu.... Beristirahatlah dengan tenang Bapak.... Kami akan selalu mengenang dan mendoakan mu... With Love FN Fam

Dari Jendela SMP Ku...

Baiklah saya juga akan menjawab tantangan tantangan siapa ya? Maaf saya tidak memposting foto tapi tulisan saja. .. Dari Jendela SMP Ku... Pagi itu langit mendung, tapi tak menyurutkan langkah ku untuk pergi ke sekolah, beberapa anak berseragam putih biru tegak bergerombol di depan gapura desa, Dengan tujuan sama. Menunggu angkutan umum. Kuhampiri beberapa teman ku yang duluan berdiri disana. Kami larut dalam obrolan yang itu2 saja tapi anehnya tak ada kebosanan. Beberapa angkutan mulai lewat, tapi sudah penuh sesak oleh anak2 sekolah dari desa sebelumnya. Kami putuskan untuk menunggu angkutan lain. Angkutan kedua, tiga dan seterusnya masih juga tampak penuh ditambah hari mulai beranjak siang, saingan bukan hanya dari sesama pelajar tapi juga ibu2 yang akan berangkat ke pasar. Wajah kami mulai cemas, takut terlambat. Terbayang wajah kepala sekolah kami yang tidak bersahabat melihat murid2 nya datang terlambat. Syukurlah akhirnya ada sebuah mobil angkutan yang datang terseok- seok dari...

17 Juni 2009

Hari ini sebelas tahun yang lalu, rasanya masih terbayang berat dan letih nya perjuangan ummi demi melihat mu terlahir ke dunia nak... Semua sirna, saat tangis mu memecah di kesunyian malam. Mengalunkan irama syahdu mengiringi lengkap nya cerita hidup kami. Putri sulung ummi...yang mungkin jika bisa memilih, kau akan memilih lahir dari rahim ibu lain, karena ummi bukan ibu yang sempurna... Engkau, uji coba kami orang tua mu. Yang tak punya cukup bekal untuk menjadi orang tua yang baik dulu. Betapa banyak kesalahan ummi pada mu nak... Tapi yakinlah...walau kami mungkin bukan yang terbaik , tapi hadirmu lah yang melengkapi hidup kami hingga jadi hidup yang terbaik . Maaf kan ummi, jika belum bisa menjadi ibu yang sempurna untuk mu dan adik2... Walau tak terucap, yakinlah ummi bangga dan bahagia memiliki putri seperti mu.... Do'a terbaik untuk mu hariini dan nanti, tetaplah menjadi anak yang berbakti. Untuk agama, orang tua dan negara mu. Adzkia Syifa Ainun Najah

Pagi itu di tahun 1990

Kring....bapak membunyikan sepeda onthel tua nya, membuyarkan konsentrasi kanak2 ku yang tekun mengamati untaian bunga pohon bonsai yang tumbuh berjejer di tepi rumah. "Ayo naik", kata bapak sambil menepuk boncengan belakang sepeda. Aku berlari mendekat, Hari itu Hari pertama aku masuk sekolah dasar. SD tempat ku sekolah tidak jauh dari rumah, tapi karena bapak Ada keperluan ke tempat lain, bapak mengajak ku naik sepeda. Gerbang sekolah berdiri gagah menyambut kami, warna nya biru dengan tulisan besar ditengah2, SDN 1 Banjarsari. Sekolah yang melahirkan banyak orang2 hebat dikemudian Hari. Keadaan tampak ramai hari itu, murid2 berbaur dengan orang tua yang mengantar anak2 nya. Langkah kecil ku tertatih mengikuti bapak yang berjalan duluan. Mata ku nanar mangawasi setiap sudut sekolah, perasaan ku campur aduk, antara senang Dan takut. Seseorang menyapa bapak. Sosok berkaca mata, tinggi, berambut keriting datang mendekati kami. " Ayo kesini, katanya sambil tersenyum.......

Menikah adalah proses belajar atau belajar beproses?

Malam itu, aku katakan pada nya... Kita tak pernah cukup bekal untuk memulai rumah tangga ini Kau orang biasa, aku pun sama. Kita, 2 insan yang disatukan bukan dasar cinta semata. Kita hanyalah 2 orang buta yang mencoba meraba2 bentuk sakinah Menyelam dalam samudera mencari mawaddah Berharap rahmah Nya senantiasa menaungi walau menyadari siapalah kita. Sungguh, kalaulah bahagia itu diukur dari materi Betapa banyaknya keluaga miskin yang berpisah Bila diukur dari keluasan ilmu agama Alangkah banyak orang2 amniah seperti Kita yang gagal mempertahankan rumah tangga. Tapi Kita masih bersama, bertahan dengan segala ke "biasa" an kita. Terima kasih, telah bertahan dengan segala kekurangan ku selama ini... Hanya untaian do'a yang bisa aku munajat kan di hari berkurang nya usia mu... Semoga Allah menjaga mu dalam perjalanan singkat ini dan senantiasa membimbing mu dalam keistiqomahan. Ferry Heryadi

The Power of 10.000

Sore itu, si Ayuk cerita kalau hari itu di sekolah dia tidak makan katering seperti biasa. Cerita nya berawal dari si A (temannya) bera ntem dengan si B Karena rebutan duit 10.000 yang ditemukan di bawah meja di kelas. Si A nangis, karena duit itu untuk bayar katering makan siang. Si B juga tidak mau mengalah, Dan merasa kalau itu duit nya. Di tengah pertengkaran itu si Ayuk memberikan duit katering 10.000 nya tuk si A. "Kasihan mi, dia nangis..." "Jadi, ayuk gak makan?" tanya ku " Gak" jawab nya " Teman ayuk, si A tadi, makan?" Tanya ku lagi Si Ayuk mengangguk... Melihat ummi nya nampak heran si Ayuk berujar "Gak apa2 umi...si A kan teman baik aku, rumah nya juga lebih jauh, lagian ayuk gak terlalu laper" Aku tersenyum kecil, bukan masalah si Ayuk makan atau tidak, hanya tidak menyangka Si Ayuk sebegitu baik nya. Hal yang mungkin jarang terpikir oleh kita, rela memberikan sesuatu yang sebenarnya Kita juga butuh. Si Ayuk bisa saja diam...

Kehidupan Akan Menemukan Sendiri Jalannya

Foto bersama Konsul AS untuk wilayah Sumatra Guy Margalith Ketika mereka mulai bingung mencari universitas mana tujuan akhir sekolah. Lagi-lagi sejarah kembali berulang, diwaktu yang berbeda namun momen hampir sama. Segelintir anak-anak didik dengan sedikit gugup menghampiri disela duduk manis tak tentu arah kerja. Pertanyaan yang sama kembali terdengar, mungkin langkah penting ini begitu sakrar sampai-sampai membuat mati kutu J . Keadaan sedikit berbalik, ketika mereka masih duduk di bangku  kelas X ataupun XI, obrolan mungkin tak jauh dari life style dan cowok. Namun memasuki tahun ketiga, bayangan kehidupan pasca usia SMA mulai mengusik jiwa-jiwa lugu ini. Hhmm… karena pertanyaan sama terpaksa saya kembali buka kitab-kitab usang. Sederet bait intinya saja ku sampaikan, bahwa tak perlu bingung akan masa yang akan datang. Memang langkah kecil hari ini tentukan apa corak esok hari namun untuk kasus ini jangan terlalu di dramatisir karena bisa saja akan membuyark...