Langsung ke konten utama

Postingan

The Power of Word

Salah satu sahabatku berkata "aku males ngobrol dengan dia, dia ngomongnya ceplas-celpos bahkan terkadang sangat cetus" sangkin kesalnya bahkan sampai ia pun menghujat. Mendengar ini aku hanya tidak bisa berkata banyak hanya sekedar mengucap "Sabar..." _______________ Memang, di sekeliling kita masih banyak orang-orang yang suli t mengendalikan lisannya. Sadar atau tidak, Kata-kata yang keluar dari mulut kita memiliki suatu kekuatan besar yang berdampak bagi diri kita sendiri dan orang lain. "Kata-kata" merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya suatu tujuan. Jika kata-kata yang kita keluarkan bersifat positif maka tentu saja hasil dan pandangan orang juga akan positif dan begitu juga sebaliknya. Seorang pedagang harus mampu melobi dengan baik calon konsumennya. Seorang guru harus mampu berkomunikasi yang baik dalam mencapai tujuan prosesi kegiatan belajar mengajar di kelas. Seorang pendakwah harus ma...

Aku Melihat Surga di Telapak Tangan mu

Di tengah perbincangan dengan teman-teman tentang pekerjaan rumah tangga, salah seorang teman ku bertanya apakah aku sudah punya mesin cuci. Aku jawab belum, sebab sudah 1 tahun terakhir ini aku menggunakan jasa tukang cuci untuk mencuci pakaian kerja dan mencuci sendiri pakaian anak-anak dengan tangan. Tapi sekarang aku hentikan dengan alasan upah yang terus naik dan bayi ku sudah cukup besar. Teman ku tadi sedikit terkejut mendengar kalau aku masih mencuci pakaian dengan tangan.Dia menyarankan untuk menggunakan mesin cuci karena bisa meringankan pekerjaan rumah tangga. Mesin cuci memang bukan barang mewah lagi kini, sudah banyak keluarga yang menggunakannya. Aku sendiri melihat teman-teman ku sudah menggunakannya bahkan di awal-awal pernikahan mereka. Sudah hampir 6 tahun aku menjalani karir sebagai ibu rumah tangga, tapi aku belum berfikir untuk menggunakannya karena suatu alasan. "aku melihat surga di telapak tangan mu..." kata suami ku sekitar 5 tah...

Stop mengeluh di jejaring sosial

"Tren Social Media tidak hanya soal menaruh profil atau berkeluh kesah, tapi juga bisa digunakan sebagai media berbagi hal dan informasi yang bermanfaat", Singgih Wandojo _________________ Sudah fitrah manusia tak luput dari khilaf dan salah, dihimpit oleh beban hidup, ditimpah beranekaragam masalah, rasa ketakutan dan kecemasan. Seba gai makluk sosial, ia akan meruahkan segala rasa itu pada orang lain yang dianggapnya dapat memberikan solusi dan jalan terbaik. Lalu, bagaimana kalau ia publikasikan secara luas melalui update status?. Sebenarnya tidak ada larangan akan itu, selagi tidak melanggar norma-norma yang berlaku dan hukum positif dunia IT. Akan tetapi perlu diperhatikan sebesar apa manfaat dan solusi yang akan kita dapat, jangan sampai segala keluh kesah kita hanyalah menjadi konsumsi/tontonan publik dan muara terumbar aib. Bisa jadi aib tersebar bukan karena orang lain, tetapi karena kita sendiri yang tidak disadari melalui berbagi status....

Galau dan Bahagia

Galau dan bahagia memiliki perbedaan tipis yang sulit sekali tuk dibedakan apalagi yang menaunginya adalah orang-orang yang pandai malih rupa dan tingkah. Tidak sedikit kita temui orang yang berkata pusing tapi bibirnya tersenyum atau sebaliknya ia berkata senang namun wajahnya berduka. Ada juga orang yang rajin update status gambarkan keteguhan jiwa sembari mengajak tuk tabah tapi hatinya sendiri gundah-gulana, (mungkin saja jalan itu dipilih sebagai proses memantapkan hati dan beramal jariyah :) ). Galau dan bahagia memang susah dinilai namun dapat dirasakan tidak mesti melalui bahasa verbal namun bisa juga dengan pola aksara. Mungkin kalau melihat judulnya sih, saya termasuk orang yang pesimis atau jangan-jangan sedang galau juga hahaha (terserah.... sekarang era bebas berpendapat :) ), karena mendahulukan kata "Galau" ketimbang "Bahagia". Yang jelas saya memiliki alasan tersendiri karena mengambil sudut pandang akan rasio mengungkapk...

Belajar dari Khadijah

Satu minggu setelah pernikahan adalah saat-saat tersulit dalam sebuah rumah tangga. Janur kuning telah layu, rumah sudah sunyi sepi, peralatan dapur telah kembali ke tempat penyimpanan semula dan tidak ada lagi berpasang-pasang mata yang antusias melihat kita. Bahkan keluarga dekat sekalipun tidak ada yang banyak bicara, semuanya akan terasa asing dan akan bertambah asing sa at pertama kali menginjakkan kaki di rumah mertua pasca menikah. Jika tidak siap, bisa saja memicu pertengkaran diawal-awal pernikahan. Saat berada dalam situasi keterasingan itulah, biasanya seorang istri membutuhkan suaminya untuk selalu memperhatikannya, memotivasinya sedangkan sang suami tampak terlalu sibuk mengurusi pekerjaannya yang tertunda karena sekian lama ditinggalkan demi tahapan-tahapan acara pernikahan. Saat kita ingin dia selalu berada di sisi, dia ternyata sibuk dengan urusannya sendiri. Belum lagi masalah kontrakan pasca keluar dari rumah mertua dan berbagai hal lainnya. Ap...

BEING A SANTRI. WHY NOT ?

Saat menjemput si sulung di sekolah, tak sengaja mendengar perbincangan dua orang ibu. " walau saya guru, saya masih bingung juga bagaimana harus mengajar anak saya" katanya. "saya salut dengan guru-guru yang TK yang begitu sabar mengajar anak-anak padahal rata-rata mereka masih lajang" lanjutnya lagi Ibu yang satu nya menimpali "eh bu, anAk guru gak berarti pintar kan, tetangga saya contohnya walau kedua orang tuanya guru tapi anak-anak nya gak ada yang pinter buktinya gak ada yang sekolah di negeri" "terus sekolah dimana bu?" tanya ibu yang pertama "semua anak nya sekolah di pondok pesantren" deg, ingin sekali aku menimpali jawaban ibu itu, emangnya anak yang sekolah di pesantren karena gak pinter. tapi ku urungkan karena si Ayuk sudah menarik-narik tas ku minta pulang. Prihatin dan sedih mendengar stigma negatif itu. begitu banyak orang yang masih menggangap kalau masuk pesantren itu dianggap tidak pintar, ter...

LIFE IS A CHOICE

3 tahun lalu seorang guru warga negera Amerika homestay di rumah kami selama 1 minggu. Namanya Gayitri, walau lahir dan dibesarkan di Newyork dia tetap terlihat seperti orang India. Maklumlah dia memang warga negara Amerika keturunan India. Usianya 27 tahun kala itu, masih lajang dan sangat pintar. Dia pribadi yang hangat dan periang. Saya suka tawanya, terlihat elegan dan manis sekali. Suatu pagi disaat kami duduk di ruang tamu sambil sarapan pagi dia bertanya pada saya, pertanyaan yang tidak terduga. "Mengapa saya memakai jilbab" ku jawab dengan singkat "Karena itu kewajiban seorang perempuan muslim" dia bertanya lagi "kalau itu kewajiban mengapa ada perempuan muslim yang tidak memakai jilbab?". Lalu dia bercerita tentang pengalamannya seminggu sebelumnya saat berkunjung di Aceh. Dia melihat kebanyakan perempuan di sana memakai jilbab tetapi setelah ditanya banyak dari mereka mengaku terpaksa memakai jilbab karena diwajibkan oleh peme...