Langsung ke konten utama

Postingan

Pagi itu di tahun 1990

Kring....bapak membunyikan sepeda onthel tua nya, membuyarkan konsentrasi kanak2 ku yang tekun mengamati untaian bunga pohon bonsai yang tumbuh berjejer di tepi rumah. "Ayo naik", kata bapak sambil menepuk boncengan belakang sepeda. Aku berlari mendekat, Hari itu Hari pertama aku masuk sekolah dasar. SD tempat ku sekolah tidak jauh dari rumah, tapi karena bapak Ada keperluan ke tempat lain, bapak mengajak ku naik sepeda. Gerbang sekolah berdiri gagah menyambut kami, warna nya biru dengan tulisan besar ditengah2, SDN 1 Banjarsari. Sekolah yang melahirkan banyak orang2 hebat dikemudian Hari. Keadaan tampak ramai hari itu, murid2 berbaur dengan orang tua yang mengantar anak2 nya. Langkah kecil ku tertatih mengikuti bapak yang berjalan duluan. Mata ku nanar mangawasi setiap sudut sekolah, perasaan ku campur aduk, antara senang Dan takut. Seseorang menyapa bapak. Sosok berkaca mata, tinggi, berambut keriting datang mendekati kami. " Ayo kesini, katanya sambil tersenyum.......

Menikah adalah proses belajar atau belajar beproses?

Malam itu, aku katakan pada nya... Kita tak pernah cukup bekal untuk memulai rumah tangga ini Kau orang biasa, aku pun sama. Kita, 2 insan yang disatukan bukan dasar cinta semata. Kita hanyalah 2 orang buta yang mencoba meraba2 bentuk sakinah Menyelam dalam samudera mencari mawaddah Berharap rahmah Nya senantiasa menaungi walau menyadari siapalah kita. Sungguh, kalaulah bahagia itu diukur dari materi Betapa banyaknya keluaga miskin yang berpisah Bila diukur dari keluasan ilmu agama Alangkah banyak orang2 amniah seperti Kita yang gagal mempertahankan rumah tangga. Tapi Kita masih bersama, bertahan dengan segala ke "biasa" an kita. Terima kasih, telah bertahan dengan segala kekurangan ku selama ini... Hanya untaian do'a yang bisa aku munajat kan di hari berkurang nya usia mu... Semoga Allah menjaga mu dalam perjalanan singkat ini dan senantiasa membimbing mu dalam keistiqomahan. Ferry Heryadi

The Power of 10.000

Sore itu, si Ayuk cerita kalau hari itu di sekolah dia tidak makan katering seperti biasa. Cerita nya berawal dari si A (temannya) bera ntem dengan si B Karena rebutan duit 10.000 yang ditemukan di bawah meja di kelas. Si A nangis, karena duit itu untuk bayar katering makan siang. Si B juga tidak mau mengalah, Dan merasa kalau itu duit nya. Di tengah pertengkaran itu si Ayuk memberikan duit katering 10.000 nya tuk si A. "Kasihan mi, dia nangis..." "Jadi, ayuk gak makan?" tanya ku " Gak" jawab nya " Teman ayuk, si A tadi, makan?" Tanya ku lagi Si Ayuk mengangguk... Melihat ummi nya nampak heran si Ayuk berujar "Gak apa2 umi...si A kan teman baik aku, rumah nya juga lebih jauh, lagian ayuk gak terlalu laper" Aku tersenyum kecil, bukan masalah si Ayuk makan atau tidak, hanya tidak menyangka Si Ayuk sebegitu baik nya. Hal yang mungkin jarang terpikir oleh kita, rela memberikan sesuatu yang sebenarnya Kita juga butuh. Si Ayuk bisa saja diam...

Kehidupan Akan Menemukan Sendiri Jalannya

Foto bersama Konsul AS untuk wilayah Sumatra Guy Margalith Ketika mereka mulai bingung mencari universitas mana tujuan akhir sekolah. Lagi-lagi sejarah kembali berulang, diwaktu yang berbeda namun momen hampir sama. Segelintir anak-anak didik dengan sedikit gugup menghampiri disela duduk manis tak tentu arah kerja. Pertanyaan yang sama kembali terdengar, mungkin langkah penting ini begitu sakrar sampai-sampai membuat mati kutu J . Keadaan sedikit berbalik, ketika mereka masih duduk di bangku  kelas X ataupun XI, obrolan mungkin tak jauh dari life style dan cowok. Namun memasuki tahun ketiga, bayangan kehidupan pasca usia SMA mulai mengusik jiwa-jiwa lugu ini. Hhmm… karena pertanyaan sama terpaksa saya kembali buka kitab-kitab usang. Sederet bait intinya saja ku sampaikan, bahwa tak perlu bingung akan masa yang akan datang. Memang langkah kecil hari ini tentukan apa corak esok hari namun untuk kasus ini jangan terlalu di dramatisir karena bisa saja akan membuyark...

Ustad Abdul Somad dan Keikhlasannya

Tak disangka akhirnya bisa melihat, mendengar dan merasakan kehadiran penceramah kondang ustad. Abdul Somad. Ulama yang cukup viral dan semakin trending topic disaat jelang pilpres 2019. Cukup lama memperhatikan, apa yang membuat ustad satu ini begitu terkenal di dalam maupun luar negeri. Sangkin tersohornya malah ada beberapa tempat yang memutuskan untuk menolak kehadiran beliau, hhmm… mungkin ada segelintir orang yang merasa terusik dengan materi ceramahnya yang polos, menggigit dan apa adanya. Tabligh akbar di pesantren Al-Ittifaqiah bersama ustad yang biasa disapa dengan UAS ini menjadikan momen langka yang tidak saya sia-siakan. Jauh beberapa hari sebelumnya, sesekali saya buka artikel yang membahas UAS dan tonton beberapa video ceramahnya. Kesempatan berjumpa ini secara tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terbangun selama ini. Walaupun bertugas sebagai salah satu kepanitiaan, tetapi demi menjawab rasa penasaran, saya paksakan untuk memperhatikan mula...

Simpang Timbangan, Saksi Meraih Cita

Part 2 Masih ingatkah sobat, masjid Al Hijrah yang dulu sering kita datangi untuk sholat Tarawih?Kondisi sekarang sudah jauh lebih baik, lebih megah, lebih cerah dan bertingkat. Tapi sepertinya tidak lebih ramai daripada dulu. Ada lagi satu bangunan yang dulu sangat lekat dengan Simpang Timbangan. "Rumah Makan Buana". Tempat pemberhentian saya dari mudik, sebut saja " stop Timbangan mang"... dan sopir pun akan menghentikan mobil nya tepat di depan rumah makan ini. Rumah makan dulu tidak semenjamur sekarang. Seingat saya, Buana adalah rumah makan terbesar di Timbangan kala itu. Rumah makan yang tentu saja tak terjamah oleh kantong mahasiswa, kecuali saat sahabat kami Vamos Angie, datang menginap, berkali-kali kami ditraktir makan di sana... Thanks sist... 🥰 Rumah makan Buana kini sudah tinggal kenangan. Bangunan nya masih ada tapi sudah tidak berfungsi. Tidak jauh dari rumah makan Buana, persisnya di sebelah kanan, ada sebuah toko kelontong yang sering ...

Simpang Timbangan, Tempat Penuh kenangan

Part 1 Melihat suasana timbangan sekarang tampak tak jauh berbeda dari 13-15 tahun yang lalu saat aku pernah menjadi bagian dari nya. x Hutan kecil di ditengah2 jalan tampak masih sama, Timbangan sekarang tampak lengang, entah kenapa? Lebih ramai saat kami kuliah dulu, tampak nya mahasiswa sekarang tak terlalu suka keluar Kos. Jalanan yang dulu berseliweran oleh angkot kuning kini tak begitu ramai lagi, mamang2 becak yg dulu mangkal di sisi2 jalan tak terlihat lagi, mahasiswa sekarang kebanyakan bawa kendaraan sendiri, terlihat dari kos-kosan sekarang yang wajib dilengkapi garasi. Timbangan dulu di sore hari, dipenuhi oleh anak2 kos yang bosan berdiam diri di Kos yang sumpek, berjejal menyelesaikan tugas kuliah di rental2 komputer yang selalu ramai dikunjungi. Komputer saat itu masih barang langka untuk dimiliki sendiri. Mengantri di wartel Trifika untuk menelpon keluarga perihal uang bulanan, Mampir membeli es puter yang saya lupa nama nya, tak lupa belanja kebutuh...