Minggu, 12 Januari 2014

mencoba menanggapi opini Sumeks "Kebangkitan versus Bad News" oleh Sirikit Syah (Dosen Stikosa dan Analis Media)

Sudah tak asing lagi tiap tanggal 20 Mei bangsa ini memperingati hari Kebangkitan Nasional. Ketika kita kilas balik sejarah perjuangan pembentukan bangsa ini, memang berbagai elemen tak mau hanya duduk manis, dengan ikhlas pemuda-pemuda Indonesia bersatu, para bangsawan, priyai, ulama dan tokoh masyarakat, bahkan rakyat kecilpun ikhlas berjuang.

Sekarang, potret bangsa ini nampaknya dikotori oleh berbagai headline yang buruk (Bad News is Good News). Tanpa tengok kanan-kiri media terus menggencarkan pemberitaan Geng motor, seks bebas, korupsi, suap dan pencucian uang dll.

Begitu dahsyatnya pemberitaan ini, sehingga menutupi pemberitaan prestasi pemuda dan bangsa. Satu sisi kita tidak bisa semata-mata menyalahkan media, walaupun mereka berperan sebagai watch, participate, enable and have the power, akan tetapi mereka juga adalah badan usaha yang memiliki marketing. Mari kita pusatkan pandangan kita bukan hanya sebatas permukaannya saja, dibalik media massa, kenakalan pelajar, pejabat yang tersandung kasus KKN, dan pencucian uang terdapat person-person yang sedang atau telah menempuh sistem pendidikan.

Menurut H. Horne; Pendidikan adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia. Menurut KI Hajar Dewantara ; Pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan lingkungannya. Sedangkan Tujuan pendidikan itu sendiri memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan.

Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Dalam renungan kebangkitan nasional alangkah indahnya kalau kita renungkan akar permasalahannya yang salah satunnya terletak pada sistem pendidikan bangsa ini.

Mengapa ada kenakalan remaja? sudah benarkah sistem pendidikan yang diterapkan?. Mengapa ada pejabat yang tidak amanah? sudah tercapaikan tujuan dari pendidikan itu sendiri?. Sudah ikhlaskah para guru dalam bermujahadah? dan lain sebagainya. Sistem pendidikan tidak hanya melibatkan satu atau dua elemen saja. Pemerintah, masyarakat, tenaga pendidik, dan stake holder yang lain juga wajib bertanggungjawab akan ketercapaian tujuan luhur dunia pendidikan.

Menyikapi bagaimana prediksi bangsa Indonesia pada tahun emasnya 2045 mendatang, Prof. M. Sirozi, Ph.D. dalam tulisannya menyebutkan "Apa yang terjadi hari ini dalam sistem pendidikan satu bangsa mencerminkan apa yang akan terjadi pada bangsa tersebut di masa yang akan datang".

____________________
Semoga bermanfaat dan salam takzim ^^

Tidak ada komentar :

Posting Komentar